Laman

Thursday, 25 November 2010

Cemas? Ter-SENYUM-lah!

Satu hal yang cukup menarik ketika kemudian perasaan yang satu ini datang pada pikiran kita, Kecemasan. Saya cukup tertarik untuk membahas masalah ini, bukan karena saya tidak pernah cemas namun sebaliknya karena saya merasa makhluk yag satu ini sering hinggap di pikiran saya. Tapi masalahnya kemudian adalah bagaimana kita mengontrol dan mengendalikan kecemasan kita

Kata cemas berbanding terbalik dengan kata tenang. Dan menariknya, pada kenyataannya orang akan lebih menyukai orang yang terlihat tenang karena ketenangan merefleksikan kepercayaan diri dan kebahagiaan yang jika diruntut akan berujung pada rasa syukur. Ketika berada didekat orang yang bersikap tenang kecenderungannya kita akan terbawa dalam ketenangan, seperti halnya kebahagiaan kita senderung senang berada bersama orang yang sedang senang. Saya meyakini hal ini sebagai peristiwa resonansi jiwa.

Kembali lagi ke kecemasan, menurut Stuart dan Sendeens, Kecemasan dapat didefininisikan sebagai suatu keadaan perasaan keprihatinan, rasa gelisah, ketidak tentuan, atau takut dari kenyataan atau persepsi ancaman sumber aktual yang tidak diketahui atau dikenal. Dan menurut teman baik saya kecemasan dan kekhawatiran terjadi karena tidak seimbangnya akal dan iman (han han). Hal ini terjadi karena adanya konflik psikis yang tidak disadari.

Kenapa Kecemasan menjadi sangat berbahaya?

Hinggapnya rasa cemas akan sangat berpengaruh negatif bagi individu, setidaknya akan ada beberapa efek seperti ketidak percaya dirian, merasa tidak berharga, dan akan mempengaruhi sikap terhadap ekspektasi yang kita bentuk sebelumya.

Dan seperti yang telah diungkapkan sebelumnya bahwa kecenderungan dalam hukum pergaulan orang akan lebih menyukai orang yang tenang.

Gejala Awal Kecemasan

Gejala awal yang kemudian timbul ketika seseorang dilanda kecemasan adalah munculnya fight or flight response (bertarung atau lari menghindar) yang dipicu meningkatnya adrenaln dalam tubuh.

Secara fisiologis, orang yang sedang cemas dapat dilihat dari tanda-tadanya seperti jantung berdebar, denyut nadi cepat, nafas tak berarturan, tekanan nadi menurun, produksi keringat meningkat, banyak melakukan reaksi yang tidak perlu seperti garuk-garuk kepala, pandangan tidak fokus dan sebagainya.

Disamping respon fisiologis, respon psikologis yang kemudian akan timbul adalah Gelisah, gugup, bicara cepat dan tidak ada koordinasi, un-focus, konsentrasi hilang, mudah lupa, terlihat bingung, kawatir yang berlebihan, dan lain-lain.

Kemudian Saya Harus Bagaimana?

Saya berfikir kalau jawabannya ada dalam pikiran kita. Pikiran memiliki kekuatan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya, dan itu sangat berpengaruh pada apapun yang kita rasakan dan bahkan kita dapatkan. Berpikirlah dengan positif dan percaya pada kemampuan diri sendiri. Ketika kita merasa dan berpikir kita bisa kita berupaya untuk menularkan energi positif itu ke seluruh sel dalam diri kita, mengalirkan dalam peredaran darah kita, menyimpan pada otot-otok kita. Bukan berarti kita kemudian sombong dan merasa paling hebat.

Possitive thinking and Positive Feeling

Yang jelas, harus ada keselarasan antara apa yang kita pikirkan dengan apa yang kita rasakan. Antara logika (otak/ fikir) dengan perasaan (keyakinan/ kalbu) haruslah sesuai, karena menurut saya pribadi, saya setuju dengan pendapat teman saya diatas kalau ketakutan dan kepanikan terjadi karena tidak seimbangnya akal dan iman.

Jadilah diri sendiri dan jangan pernah takut untuk menjadi diri sendiri. Kita merasa orang lain lebih baik dari kita, tapi apa yang baik bagi orang lain belum tentu baik untuk kita (pembahasan selanjutnya)

Selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki, dengan kebahagiaan yang kita dapat, masalah yang kita punya dan jangan menghitung-hitung kesulitan yang kita alami akan cukup ampuh untuk membuat batin kita tenang. Dan tak lupa berterima kasihlah, dan tersenyumlah

Faktor fisik akan sangat mempengaruhi psikologis seseorang, dan oleh karenanya cobalah untuk membuat diri anda nyaman dan tenang. Pikirkan situasi dimana anda bisa mencapai tingkat relaxasi yang tinggi dan andapun akan merasakan suasana itu. Memikirkan kesenangan dan memvisualisasikannya dalam pikiran memiliki efek yang sama dengan merasakan kesenangan itu secara langsung.

Tersenyumlah, karena dengan senyuman akan membawa rangsangan kebahagiaan pada jiwa dan membuat kita cenderung lebih merasa tenang dan santai. Di samping itu orang yang tersenyum lebih menarik bagi orang lain karena dia mampu menularkan energi positif pada lingkungannya. Bernafaslah dengan tenang, tarik nafas dalam dalam dan keluarkan dengan perlahan. Aturlah ritme nafas dan relax-kan pikiran anda.

Senyum...Menciptakan kesan pertama yang mengagumkan

Taktik temudah untuk menciptakan kesan pertama yang menyenangkan adalah dengan memberikan senyuman dan senyuman. Senyum setidanya mengandung empat makna, yakni kepercayaan diri, kebahagiaan, antusiasme dan yang terpenting penerimaan. Orang yang tersenyum (bukan berarti tertawa) secara psikologis dianggap lebih memiliki kepercayaan diri karena pada saat merasa tidak yakin baik itu terhadap perasaan sendiri atau lingkungan sekitar atau pada keadaan gugup kita tenderung seulit untuk tersenyum atau tampak senyuman yang dibuat-buat dan tidak natural. Dan tentu saja senyuman melambangkan kebahagiaan dan kita cenderung akan lebih tertarik pada orang yang bahagia karena secara psikologis akan menularkan kebahagiaannya pada kita.

Antusiasme sangatlah penting dan menjadi salah satu faktor terpenting karena akan menanamkan kesang yang baik dan mudah menular pada orang lain. Senyuman juga mengisyaratkan kalau kita menyukai suatu tempat, kejadian, sesuatu atau seseorang yang berinteraksi dengan kita dan orang itu secara tak sadar akan merasa lebih tertarik pada kita. Senyuman mengandung makna penerimaan, dan dengan itu kita akan membiarkan orang lain menyadari kalau kita menerima nya dengan senang hati dan apa adanya.

Berkenaan dengan pandangan pertama, ada sesuatu hal yang disebut proses pertama yaitu proses di mana kesan pertama kita pada seseorang akan menyebabkan penafsiran akan tingkah laku berikutnya. leh karena itu kesan pertama sangatlah penting karena pandangan kita terhadap sesuatu atau seseorang akan sangat dipengaruhi oleh pandangan awal kita terhadapnya, dan image tersebut akan melekat pada hal atau orang itu.

Begitu pentingnya pengaruh pertama sehingga urutan informasi yang kita terima tentang sesuatu atau seseorang pun mempengaruhi peniaian kita terhadapnya.

Bandingkan dua urutan berikut :

1. Orang yang sinis, rajin, kritis, praktis dan teguh pada pendirian
2. Orang yang ramah, rajin, kritis, praktis dan teguh pada pendirian

menurut Harold Kelley, penelitiannya menyimpulkan bahwa orang akan memberikan penilaian yang jauh lebih baik terhadap seseorang ketika diberikan informasi sesuai daftar 1, dibanding daftar 2, padahal seluruh informasi tersebut sangat identik kecuali pada urutan pertama. begitu membaga kata pertama, semua informasi berikutnya akan tersaring melalui persepsi awal orang ini, yaitu Sinis atau Ramah.

Buatlah kesan pertama yang positif karena hal itu akan sangat mempengaruhi penilaian orang terhadap kita, oleh karena itu dalam sebuah iklan mungkin anda pernah mendengar slogan
“Kesan pertama begitu menggoda dan selanjutnya terserah anda”

Apa itu senyum benar-benar berarti kepada lawan jenis dan sama jenis ?

Apa itu senyum benar-benar berarti kepada lawan jenismu & sama jenismu ?

Hanya karena seseorang tersenyum pada Anda, itu tidak berarti bahwa mereka senang melihat Anda, atau bahkan bahagia. Manusia memiliki repertoar besar senyum yang menunjukkan hal yang berbeda. Kita perlu pemahaman yang baik tentang ekspresi wajah dan bahasa tubuh, untuk bekerja di luar ini dengan benar.

Ada delapan puluh otot bekerja dalam wajah tersenyum. Asli, tersenyum bahagia cenderung untuk memperluas keluar dari gerakan wajah kecil untuk ekspresi yang luas yang meliputi seluruh wajah.

Mereka bisa tersenyum takut, kesengsaraan, atau bahkan penghinaan. Senyum mengirim pesan yang kuat dalam hal bahasa tubuh, tetapi tampaknya ada perbedaan dalam cara mereka digunakan.

Wanita lebih banyak tersenyum daripada pria ketika mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan, karena mereka tahu bahwa jika mereka tersenyum mereka tidak akan mendapatkan salah. Pria cenderung tidak tersenyum saat mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan karena mereka melihat hal itu sebagai tanda kelemahan.

Kadang-kadang tersenyum tidak ada hubungannya dengan pikiran yang mendasari dan emosi. Orang-orang tersenyum karena itu adalah apa yang diharapkan dari mereka. Sebuah contoh utama di sini adalah orang penjualan tersenyum dan menjadi menyenangkan karena yang datang dengan pekerjaan, bukan karena senang semata untuk melayani pelanggan. Lalu ada politisi yang balok senyum sangat besar pada semua orang sehingga mereka pikir dia seorang pria benar-benar baik.
Read more in Relationships Baca lebih lanjut di Hubungan

Jadi, saat seseorang tersenyum pada Anda, bertanya pada diri sendiri mengapa. Apakah dia ingin suara Anda? DApakah dia ingin menjual sepasang sepatu? Apakah itu senyum penghinaan, atau dia benar-benar senang melihat Anda?

Ada apa di balik senyum itu?

Sunday, 21 November 2010

Manfaat Senyuman

1. Senyum membuat Anda lebih menarik.

Orang yang banyak tersenyum memiliki daya tarik. Orang yang suka
tersenyum membuat perasaan orang di sekitarnya nyaman dan senang.
Orang yang selalu merengut, cemberut, mengerutkan kening, dan
menyeringai membuat orang-orang di sekeliling tidak nyaman.
Dipastikan orang yang banyak tersenyum memiliki banyak teman.

2. Senyum mengubah perasaan.

Jika Anda sedang sedih, cobalah tersenyum. Senyuman akan membuat
perasaan menjadi lebih baik. Menurut penelitian, senyum bisa
memerdayai tubuh sehingga perasaan berubah.

3. Senyum menular.

Ketika seseorang tersenyum, ia akan membuat suasana menjadi lebih
riang. Orang di sekitar Anda pasti akan ikut tersenyum dan merasa
lebih bahagia.

4. Senyum menghilangkan stres.

Stres bisa terlihat di wajah. Senyuman bisa menghilangkan mimik
lelah, bosan, dan sedih. Ketika anda stres, ambil waktu untuk
tersenyum. Senyuman akan mengurangi stres dan membuat pikiran lebih
jernih.

5. Senyum meningkatkan imunitas.

Senyum membuat sistem imun bekerja lebih baik. Fungsi imun tubuh
bekerja maksimal saat seseorang merasa rileks. Menurut penelitian,
flu dan batuk bisa hilang dengan senyum.

6. Senyum menurunkan tekanan darah.

Tidak percaya? Coba Anda mencatat tekanan darah saat Anda tidak
tersenyum dan catat lagi tekanan darah saat Anda tersenyum. Tekanan
darah saat Anda tersenyum pasti lebih rendah.

7. Senyum melepas endorphin, pemati rasa alamiah, dan serotonin.

Senyum ibarat obat alami. Senyum bisa menghasilkan endorphin, pemati
rasa alamiah, dan serotonin. Ketiganya adalah hormon yang bisa
mengendalikan rasa sakit.

8. Senyum membuat awet muda.

Senyuman menggerakkan banyak otot. Akibatnya otot wajah terlatih
sehingga Anda tidak perlu melakukan "face lift". Dijamin dengan
banyak tersenyum, Anda akan terlihat lebih awet muda.

9. Senyum membuat Anda kelihatan sukses.

Orang yang tersenyum terlihat lebih percaya diri, terkenal, dan bisa
diandalkan. Pasang senyum saat rapat atau bertemu dengan klien.
Pasti kolega Anda akan melihat Anda lebih baik.

10. Senyum membuat orang berpikir positif.

Coba lakukan ini: Pikirkan hal buruk sambil tersenyum. Pasti susah.
Penyebabnya, ketika Anda tersenyum, tubuh mengirim sinyal "hidup
adalah baik". Sehingga saat tersenyum, tubuh menerimanya sebagai
anugerah.

Tuesday, 9 November 2010

Ada Apa Dengan Tgl 26 ...?

TANGGAL 26, SERING TERJADI BENCANA GEMPA BUMI DAN GUNUNG MELETUS
Ternyata dalam Alquran, surat Asyura ayat 26 di dalamnya mengemukakan tentang azab ALLAH, menceritakan kisah umat nabi-nabi yang melanggar larangan ALLAH.
Fir’aun yang merasa dirinya Tuhan, Umat Ibrahim yang menyembah berhala, umat nabi Nuh yang zalim, umat nabi Luth yang pecinta sesama jenis, dan umat Syuaib yang tidak jujur.
Ayat 26 tidak spesifik menyebutkan apa2, tapi di ayat 206-209 menyebutkan : “Kemudian datang kepada mereka azab yang diancamkan kepada mereka, niscaya tidak berguna bagi mereka kenikmatan yang mereka rasakan. Dan Kami tidak membinasakan sesuatu negeri, kecuali setelah ada orang2 yang memberi peringatan kepadanya; untuk (menjadi) peringatan. Dan Kami tidak berlaku zalim.”
QS 26:190 : “Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kekuasaan ALLAH, tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.”

Teman, ini sebagai bahan renungan, sebagai bahan introspeksi diri dan untuk meminta ampun kepada ALLAH sebelum terlambat.

Subhanallah.
- 26 Januari 1531, gempa bumi di Lisbon, Portugal, 30.000 orang tewas. - 26 Januari 1700, gempa di Laut Pasifik, dari Vancouver Island, Southwest Canada off British Columbia hingga Northern California, Pacific Northwest, USA. Dikenal sebagai “mega earthquake”. - 26 Juli 1805, gempa bumi di Naples, Calabria, Italy, 26.000 orang tewas. - 26 Agustus 1883, gunung Krakatau meletus, 36.000 orang diperkirakan tewas. - 26 Desember 1861, gempa bumi di Egion, Yunani. - 26 Maret 1872, gempa bumi di Owens Valley, USA. - 26 Agustus 1896, gempa bumi di Skeid, Land, Islandia. - 26 Nopember 1902, gempa bumi di Bohemia, sekarang Czech Republic. - 26 Nopember 1930, gempa bumi di Izu. - 26 September 1932, gempa bumi di Ierissos, Yunani. - 26 Desember 1932, gempa bumi di Kansu, Cina, 70.000 orang tewas. - 26 Oktober 1935, gempa bumi di Colombia. - 26 Desember 1939, gempa bumi di Erzincan, Turki, 41.000 orang tewas. - 26 November 1943, gempa di Tosya Ladik, Turki. - 26 Desember 1949, gempa bumi di Imaichi, Jepang. - 26 Mei 1957, gempa di Bolu Abant, Turki. - 26 Maret 1963, gempa bumi di Wakasa Bay, Jepang. - 26 Juli 1963, gempa bumi di Skopje, Yugoslavia, 1.000 orang tewas. - 26 Mei 1964, gempa bumi di S. Sandwich Island. - 26 Juli 1967, gempa bumi di Pulumur, Turki. - 26 September 1970, gempa bumi di Bahia Solano, Colombia. - 26 Juli 1971, gempa bumi di Solomon Island. - 26 April 1972, gempa bumi di Ezine, Turki. - 26 Mei 1975, gempa bumi di N. Atlantic. - 26 Maret 1977, gempa bumi di Palu, Turkii. - 26 Desember 1979 gempa bumi di Carlisle, Inggris. - 26 April 1981, gempa bumi di Westmorland, USA. - 26 Mei 1983, gempa bumi di Nihonkai, Chubu, Jepang. - 26 Januari 1985, gempa bumi di Mendoza, Argentina. - 26 Januari 1986, gempa bumi di Tres Pinos, USA. - 26 April 1992, gempa bumi di Cape Mendocino, California, USA. - 26 Oktober 1997, gempa bumi di Italia. - 26 Januari 2001, gempa bumi di Gujarat, India, 1.000 orang tewas. - 26 Januari 2001, gempa bumi di Yunani. - 26 Maret 2002, gempa bumi di Mariana Island. - 26 Mei 2002, gempa bumi di New Zealand. - 26 Mei 2003, gempa bumi di Muir Beach, California, USA dan SevenTrees, California, USA. - 26 Mei 2003, gempa bumi di Halmahera, Indonesia. - 26 Mei 2003, gempa bumi di Honshu, Jepang. - 26 Agustus 2003, gempa bumi di Val Verde, California, USA dan New Jersey, USA. - 26 Desember 2003, gempa bumi dahsyat di Bam, Iran, 45.000 orang diperkirakan tewas. - 26 Nopember 2004, gempa bumi di Nabire, Indonesia. - 26 Desember 2004, gempa bumi dan Tsunami di Aceh dan Sumatera Utara. Korban tewas lebih dari 126.000 orang dan lebih dari 37.000 orang hilang. - 26 Juni 2010, gempa Tasikmalaya. - 26 Oktober 2010, gunung Merapi di Jawa Tengah meletus. Sekitar 30 orang tewas. - 26 Oktober 2010, gempa bumi + Tsunami di Mentawai. Lebih dari 400 orang tewas dan lebih dari 300 orang hilang.

Friday, 5 November 2010

Wahai Anak Manusia....!

“Sebelum menjadi apapun…

setiap kita adalah hamba Tuhan dan anak kedua orang tua kita”

Statement di atas berangkat dari dua fakta yang berlaku pada setiap manusia, tanpa terkecuali! Pertama, tidak mungkin seorang manusia ada tanpa ada Tuhan yang menciptakannya. Kedua, tidak mungkin diri seorang manusia lahir kecuali karena ia adalah anak dari sepasang manusia: ibu dan bapak.

Beberapa landasannya adalah: Pertama, dalam perspektif agama, terdapat di As-Sajadah: 8-9

الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ ، ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ ، ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ.

“Dan Dialah (Allah) yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah, kemudia Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani), kemudian Dia menyempurnakannya dan menyempurnakannya dan meniupkan roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati bagimu, (tetapi) sedikit sekali kamu bersyukur.”

Dua fakta ini berlaku kepada seluruh manusia secara universal, lintas waktu dan tempat. Sebab itulah ada pesan universal kepada manusia seluruhnya:

واعبدوا الله ولا تشركوا به شيئا وبالوالدين إحسانا ….

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak….” (Q.S. An-Nisa’: 36)

Kita diminta bersyukur dengan tidak abai pada Tuhan dan orang tua kita. Artinya, hubungan anak dengan ibu bapaknya adalah standard syukur paling pertama dan utama dalam kemanusiaan kita. Mulia atau hina nya seseorang secara kemanusiaan diukur dari berbakti atau durhaka nya seseorang anak kepada kedua orang tuanya. Apalagi mereka yang durhaka kepada orang tuanya, berbuat zalim kepada orang tua yang lain, serta menyulitkan orang untuk berbakti.

Kedua, bagi anak Indonesia kita mengenal dalam negara kita dua nilai serupa, penghambaan terhadap Tuhan dan berbakti terhadap orang tua, dalam banyak pesan. Diantaranya dalam Pancasila. Dalam kandungan dua sila dasar negara kita. Secara normatif para founding fathers (pendiri bangsa) mengingatkan kedua hal tersebut, bahwa “Ketuhanan Yang Maha Esa” dan “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” merupakan dua hal yang paling mendasar dalam kebangsaan kita. Adil adalah “menempatkan sesuatu pada tempatnya” dan beradab adalah “melaksanakan sesuatu dengan cara terbaik”.

Dalam kaitannya dengan praktik berbakti pada orang tua, seorang anak yang dapat menempatkan diri dan bersikap mulia kepada orang tuanya akan mendapatkan reward sosial dari lingkungannya. Mirisnya, alih-alih mengingat segala kebaikan kedua orang tuanya, banyak diantara kita sering mendengar perkataan seorang anak yang menisbatkan kegagalannya kepada orang tua mereka.

“Saya bernasib hancur begini, jelas karena bapak ibu saya membawa sial !”

Statement semacam ini jelas menunjukkan sikap yang sangat emosional dan tidak dewasa. Seakan orang tua sekedar tempat untuk melempar keburukan yang terjadi. Sementara kondisi “sukses” yang kita dapatkan tak mampu membuat kita berterima kasih kepada mereka.

“Saya sukses karena kerja keras saya, bukan karena kedua orang tua saya!”

Tabiat melupakan kedua orang tua saat sukses, dan melempar keburukan saat gagal adalah budaya kita yang direkam dalam sebuah pesan cerita rakyat.

Dalam kisah ‘Malin Kundang’ dalam cerita rakyat tentulah menunjukkan bahwa berbakti merupakan nilai dasar manusia Indonesia. Kebencian terhadap mereka yang durhaka sampai disimbolkan dengan kisah akhir Malin yang membatu. Tidak ada nilai penghargaan sedikitpun kepada yang durhaka, meski sang Malin gagah tampan dan sukses sebagai saudagar. Tak heran jika dalam budaya kita, tokoh atau figur publik sehebat apapun, dapat tiba-tiba jatuh reputasi dan karirnya ketika ia berlaku tak pantas pada kedua orang tuanya. “Sanksi” atas kedurhakaan memang tidak pernah menunggu hingga kita mati. Ia menghampiri lebih cepat dan menghukum lebih dahsyat.

Maka, berbakti kepada kedua orang tua baik dalam agama maupun bangsa kita telah dianggap sebagai kisah fundamental pertama dalam hidup. Ia kewajiban yang tak hilang dengan kematian kedua orang tua. Sementara sebagai anak, meski diri kita meninggal kita tetaplah anak orang tua kita. Paling tidak dalam nisan kita tertulis “….. bin/binti …..” yang menunjukkan bahwa kita adalah anak dari “….”

Jelasnya posisi “berbakti” dalam kehidupan manusia, melahirkan sebuah kesimpulan sederhana yang sangat penting untuk dicamkan:

“sikap kepada orang tua adalah parameter kemanusiaan. Jika baik interaksi anak dengan orang tuanya, maka baiklah kualitas kemanusiaannya. Begitupun sebaliknya, jika buruk kualitas berbaktinya maka tiada nilanya segala kesuksesan diri di kehidupan lainnya.”

Monday, 1 November 2010

ANTARA SABAR dan SYUKUR ......

Pasang surut yang mewarnai kehidupan sebuah rumah tangga tak hanya dalam hal hubungan pribadi antara suami dan istri, namun juga menyangkut anak dan rizki. Kesabaran dan sikap syukur menjadi modal yang mesti dimiliki dalam hal ini.

Setiap insan yang hidup di muka bumi ini pasti pernah mengalami suka dan duka. Tak ada insan yang diberi duka sepanjang hidupnya, karena ada kalanya kemanisan hidup menghampirinya. Demikian pula sebaliknya, tak ada insan yang terus merasa suka karena mesti suatu ketika duka menyapanya. Bila demikian tidaklah salah pepatah yang mengatakan, "Kehidupan ini ibarat roda yang berputar", terkadang di atas, terkadang di bawah. Terkadang bangun dan sukses, terkadang jatuh dan bangkrut, kadang kalah, kadang menang, kadang susah, kadang bahagia, kadang suka dan kadang duka… Begitulah kehidupan di dunia ini, kesengsaraannya dapat berganti bahagia, namun kebahagiannya tidaklah kekal.

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِيْنَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي اْلأَمْوَالِ وَاْلأَوْلاَدِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيْجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُوْنُ حُطَامًا وَفِي اْلآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيْدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُوْرِ

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah di antara kalian serta berbangga-bangga dalam banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kalian lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada azab yang keras/pedih dan ada pula ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Kehidupan dunia itu tidak lain kecuali hanya kesenangan yang menipu.” (Al-Hadid: 30)
Suka duka pun suatu kemestian yang dialami sepasang suami istri dalam mengarungi bahtera rumah tangga, karena kesempitan atau kelapangan, kesulitan atau kemudahan datang silih berganti. Ketika diperoleh apa yang didamba, mereka bersuka. Tatkala luput apa yang diinginkan atau hilang apa yang dicintai, mereka berduka.
Sebagai seorang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan mengimani takdir-Nya, sudah semestinya suka dan duka itu dihadapi dengan syukur dan sabar. Allah Subhanahu wa Ta’ala menggandengkan dua sifat ini di dalam firman-Nya:

إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِكُلِّ صَبَّاٍر شَكُوْرٍ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi setiap orang yang banyak bersabar lagi bersyukur.” (Ibrahim:5)
Qatadah rahimahullahu menafsirkan ayat di atas dengan mengatakan, “Dia adalah hamba yang bila diberi bersyukur dan bila diuji bersabar.” (An-Nukat wal ‘Uyun, 3/122)
Rasul yang mulia Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa mukmin yang sabar atas musibah/duka yang menimpanya dan bersyukur atas nikmat/suka yang diterimanya akan mendapatkan kebaikan. Kabar gembira ini tersampaikan kepada kita lewat sahabat beliau yang mulia Shuhaib Ar-Rumi radhiyallahu 'anhu. Shuhaib berkata: “Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda:

عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ لَهُ، وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin. Sungguh seluruh perkaranya adalah kebaikan baginya. Yang demikian itu tidaklah dimiliki oleh seorangpun kecuali seorang mukmin. Jika mendapatkan kelapangan ia bersyukur, maka yang demikian itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kemudaratan/kesusahan1 ia bersabar, maka yang demikian itu baik baginya.” (HR. Muslim no. 7425)
Ketika menjelaskan hadits di atas, Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullahu menyatakan bahwa setiap manusia tidak lepas dari ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan takdir-Nya. Bisa jadi ia dalam kelapangan dan bisa jadi dalam kesempitan. Dalam hal ini manusia terbagi dua: mukmin dan selain mukmin. Seorang mukmin senantiasa dalam kebaikan pada setiap keadaan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala takdirkan baginya. Bila ditimpa kesusahan ia bersabar dan menanti datangnya kelapangan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala serta mengharapkan pahala, maka ia pun meraih pahala orang-orang yang bersabar. Bila mendapatkan kelapangan berupa nikmat agama seperti ilmu dan amal shalih, ataupun nikmat dunia berupa harta, anak dan istri, ia bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan taat kepada-Nya, karena yang namanya bersyukur tidak sebatas mengucapkan “Aku bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.” Adapun selain mukmin, mendapat kesempitan ataupun kelapangan sama saja baginya, karena ia selalu berada dalam kejelekan. Bila ditimpa kesempitan/kesusahan ia berkeluh kesah, mencaci maki, dan mencela Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bila mendapat kelapangan ia tidak bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat yang telah memberikan nikmat. (Syarhu Riyadhish Shalihin, 1/108)
Seorang mukmin dan mukminah dalam menjalani kehidupan rumah tangganya harus berada di antara kesyukuran dan kesabaran. Karena ia tak luput dari takdir yang baik ataupun yang buruk. Mungkin ia belum dikaruniai anak, maka ia harus bersabar karena anak adalah pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan terkadang Dia menguji hamba-Nya dengan tidak segera atau tidak sama sekali memberinya keturunan.

لِلَّهِ مُلْكُ السَّماَوَاتِ وَاْلأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُوْرَ. أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيْمًا إِنَّهُ عَلِيْمٌ قَدِيْرٌ

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia menciptakan apa saja yang Dia kehendaki. Dia menganugerahkan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa yang dikehendaki-Nya). Dia pun menjadikan mandul siapa saja yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (Asy-Syura: 49-50)
Anak diperoleh bukan karena kemahiran seseorang, bukan karena kejantanan, kekuatan, atau kepandaiannya. Berapa banyak orang yang kuat dan memiliki keutamaan lagi kemuliaan namun Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak memberinya keturunan. Lihatlah istri-istri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, mereka tidak beroleh keturunan dari pernikahan mereka dengan Nabiyullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, kecuali Khadijah radhiyallahu 'anha dan budak beliau Mariyah radhiyallahu 'anha. Lihat pula Nabi Ibrahim dan Nabi Zakariyya ‘alaihimassalam, keduanya dikaruniai anak tatkala usia telah senja, tulang-tulang telah melemah, rambut telah dipenuhi uban dan istri pun telah tua lagi mandul2. Lihat pula Maryam ibunda ‘Isa ‘alaihissalam dikaruniai anak tanpa pernah menikah dan tanpa pernah disentuh oleh lelaki3. Dengan demikian beroleh anak atau tidak, perkaranya kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia yang memberi dan Dia yang menahan.
Bila seseorang diberi nikmat berupa anak, hendaklah ia bersyukur kepada Dzat yang telah memberikan anugerah. Namun bila tidak, maka tidak ada yang bisa dilakukan oleh seorang mukmin kecuali tunduk, sabar, ridha dengan ketetapan-Nya dan berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, karena Dia tak pernah berbuat dzalim kepada hamba-hamba-Nya. Dia Maha Tahu apa yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya, sementara hamba-hamba-Nya tidak tahu apa yang baik bagi mereka.

وَاللهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لاَ تَعْلَمُوْنَ

“Allah Maha Mengetahui sementara kalian tidak mengetahui.” (Al-Baqarah: 216)
Dalam masalah rizki juga demikian. Ketika seorang mukmin dalam kehidupan rumah tangganya tidak memperoleh rizki yang lapang, dalam kemiskinan tiada berharta, ia pun harus bersabar. Karena kelapangan dan sempitnya rizki, kaya atau miskinnya seseorang telah dicatat dan ditetapkan dalam catatan takdir dengan keadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dia memberi rizki kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia menyempitkannya kepada siapa yang Dia kehendaki, sementara Dia tidak berbuat dzalim kepada hamba-hamba-Nya.
Ingatlah, kenikmatan, kemegahan, dan kekayaan dunia bukan jaminan keselamatan di akhirat nanti. Kalaulah kekayaan itu suatu keutamaan dan keadaan yang paling afdhal niscaya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menjadikan kekasih-Nya, manusia pilihan-Nya, junjungan anak Adam, yakni Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, sebagai orang yang terkaya di dunia, bergelimang harta dan kemewahan.
Tapi ternyata tidak demikian kenyataannya. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam hidup dengan penuh kesahajaan dan kesederhanaan. Terkadang tidak ada makanan yang dapat disantap di rumah beliau sehingga beliau berpuasa. Dikisahkan hal ini oleh istri beliau yang shalihah Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu 'anha:

دَخَلَ عَلَيَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ، فَقَالَ: هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ؟ فَقُلْنَا: لاَ. قَالَ: فَإِنِّي إِذَنْ صَائِمٌ

Suatu hari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam masuk ke rumahku, lalu bertanya, “Apakah ada makanan pada kalian (yang bisa kumakan)?” “Tidak ada,” jawab kami. “Kalau begitu aku puasa,” kata beliau. (HR. Muslim no. 2708)
Sampai-sampai untuk membeli makanan, beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah berhutang dengan menyerahkan baju besi beliau sebagai jaminan. Masih dari kisah Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu 'anha:

اشْتَرَى رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ يَهُوْدِيٍّ طَعَامًا بِنَسِيْئَةٍ، فَأَعْطَاهُ دِرْعًا لَهُ رَهْنًا

“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah membeli makanan dengan pembayaran di belakang (akan dibayar pada waktu yang telah ditentukan), beliau memberi baju besinya kepada si Yahudi sebagai jaminan.” (HR. Muslim no. 4090)
Betapa sabarnya istri-istri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dengan kekurangan dunia yang mereka terima selama hidup dengan suami mereka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, dan beliau pun wafat tanpa meninggalkan warisan untuk mereka. Kata ‘Amr ibnul Harits, saudara Ummul Mukminin Juwairiyyah bintul Harits radhiyallahu 'anha:

ماَ تَرَكَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ مَوْتِهِ دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَلاَ عَبْدًا وَلاَ أَمَةً وَلاَ شَيْئًا إِلاَّ بَغْلَتَهُ الْبَيْضَاءَ الَّتِي كَانَ يَرْكَبُهَا وَسِلاَحَهُ وَأَرْضًا جَعَلَهَا لاِبْنِ السَّبِيْلِ صَدَقَةً

“Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tatkala wafatnya tidak meninggalkan dinar, dirham, budak laki-laki, budak perempuan, dan tidak meninggalkan harta sedikitpun kecuali seekor bighalnya yang berwarna putih yang dulunya biasa beliau tunggangi dan pedangnya serta sebidang tanah yang beliau jadikan sebagai sedekah untuk musafir.” (HR. Al-Bukhari)
Demikian sebagai anjuran untuk bersabar dengan kesulitan hidup...
Ketika rizki datang pada si mukmin dan kelapangan hidup menyertainya maka rasa syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala harus diwujudkan. Tidak hanya mengucapkan syukur dengan lisan disertai keyakinan hati, namun harus pula diiringi dengan amalan, yaitu membelanjakan harta tersebut di jalan yang diridhai oleh Sang Pemberi Nikmat dengan infak dan sedekah.
Memiliki rasa syukur ini sungguh suatu keutamaan dan anugerah karena sedikit dari hamba-hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala yang mau bersyukur, sebagaimana dinyatakan dalam Tanzil-Nya:

وَقَلِيْلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُوْرُ

“Dan sedikit dari hamba-hamba-Ku yang mau bersyukur.” (Saba`: 13)
Siapa yang bersyukur, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan menambah nikmat-Nya. Adapun orang yang enggan untuk bersyukur, ia akan diazab:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيْدٌ

“Apabila kalian bersyukur, Aku sungguh-sungguh akan menambah kenikmatan bagi kalian dan sebaliknya bila kalian kufur nikmat maka sungguh azabku sangat pedih.” (Ibrahim: 7)
Hadapilah liku-liku kehidupan berumah tangga dengan sabar dan syukur, niscaya kebaikan akan diperoleh. Memang “Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin.”
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

1 Kemudaratan di sini sifatnya umum, baik yang menimpa tubuhnya ataupun menimpa keluarga, anak, atau hartanya. (Bahjatun Nazhirin, 1/82)
2 Nabi Zakariyya ‘alaihissalam ketika berdoa minta keturunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala menyatakan:

قَالَ رَبِّ إِنِّي وَهَنَ الْعَظْمُ مِنِّي وَاشْتَعَلَ الرَّأْسُ شَيْبًا وَلَمْ أَكُنْ بِدُعَائِكَ رَبِّ شَقِيًّا

“Wahai Rabbku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada-Mu, wahai Rabbku.” (Maryam: 4)
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabulkan doa Nabi Zakariyya ‘alaihissalam dengan memberi kabar gembira kepadanya akan beroleh seorang putra. Nabi Zakariyya ‘alaihissalam pun takjub dengan berita tersebut hingga beliau berkata dengan heran:

قَالَ رَبِّ أَنَّى يَكُوْنُ لِي غُلاَمٌ وَكَانَتِ امْرَأَتِي عَاقِرًا وَقَدْ بَلَغْتُ مِنَ الْكِبَرِ عِتِيًّا

“Wahai Rabbku, bagaimana aku akan beroleh anak, padahal istriku adalah seorang yang mandul dan aku sendiri sudah mencapai umur yang sangat tua.” (Maryam: 8)
3 Ketika malaikat Jibril ‘alaihissalam menemui Maryam dalam bentuk seorang manusia guna memberi kabar gembira kepada Maryam bahwa ia akan beroleh seorang putra, Maryam pun berkata dengan heran:

قَالَتْ أَنَّى يَكُوْنُ لِي غُلاَمٌ وَلَمْ يَمْسَسْنِي بَشَرٌ وَلَمْ أَكُ بَغِيًّا

“Maryam berkata, ‘Bagaimana aku akan beroleh anak, sementara tidak ada seorang lelaki pun yang pernah menyentuhku dan aku sendiri bukan seorang pezina?’.” (Maryam: 20)
Penulis : Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah

Ibn’ Amir menyampaikan, Muhammad Rasulullah S.a.w bersabda, ” Ada dua watak yang apabila keduanya terdapat dalam diri seseorang, maka Allah mencatatnya sebagai orang yang sabar dan bersyukur. Yakni seseorang yang apabila melihat ada orang lain lebih pintar atas dirinya dalam masalah agama, ia mengikutinya. Dan jika ia melihat orang lain lebih miskin dari dirinya, lalu ia memuji Allah atas karunia yang diterimanya. Orang seperti itulah yang dicatat oleh Allah Swt sebagai orang yang bersabar dan bersyukur ” (HR. Tirmidzi)