Laman

Tuesday, 21 September 2010

KIAT_KIAT UNTUK MENAMBAH KEIMANAN KITA KEPADA ALLAH

Iman itu bisa bertambah dan berkurang. Secara umum, seluruh amal sholih dan ketaatan akan menambah iman dan seluruh kemaksiatan akan mengurangi iman. Dan pada edisi kali ini akan kita jabarkan kiat-kiat untuk menambah keimanan kita kepada pada Allah SWT.

1. Mengenal Allah SWT dengan nama-nama dan sifat-sifat-Nya;

Manusia setiap kali bertambah pengetahuannya terhadap nama-nama dan sifat-sifat-Nya maka akan bertambahlah imannya.

Di antara sifat-sifat orang yang benar-benar beriman adalah ketika disebut nama Allah I maka gemetarlah hatinya. Sebagaimana firman-Nya:

))إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ ءَايَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ((

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada robb-lah mereka bertawakkal”. [Al Anfaal:2]

Sehingga bagaimana mungkin seseorang itu menjadi gemetar hatinya dan takut apabila disebut nama Allah I kalau dia tidak mengenalNya. Semakin dia mengenal Allah I maka semakin besar pula rasa takutnya pada Nya. Dengan demikian Maha Benar Allah dengan firman-Nya:

))إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ((

Artinya: “Diantara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah ulama”. [Faathir:28]

Dan di antara sifat orang-orang yang beriman juga adalah mereka amat sangat mencintai Allah I sebagaimana firman-Nya:

))وَالَّذِينَ ءَامَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ((

Artinya: “Adapun orang-orang yang beriman sangat besar cintanya pada Allah”. [Al Baqoroh:165]

Pepatah mengatakan “tak kenal maka tak cinta”, jadi bagaimana mungkin seseorang beriman pada Allah SWT dan mencintai-Nya jika dia tidak mengenal siapakah Allah SWT.

Untuk itulah kita harus mempelajari, dan memahami nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang mulia. Yang terkandung di dalamnya kerububiyahan dan keuluhiaan-Nya.

Allah SWT berfirman:

))وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا((

Artinya: “Dan Allah mempunyai nama-nama yang bagus maka berdo’alah dengan nama-nama tersebut”. [Al A’roof:180]

Rasulullah r juga bersabda:

))لِلَّهِ تِسْعَةٌ وَتِسْعُوْنَ اِسْمًا، مِائَةٌ إِلَّا وَاحِدًا، لَا يَحْفَظُهَا أَحَدٌ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَهُوَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ.((

Artinya: “Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu, tidaklah seorangpun yang menghafalnya kecuali dia akan masuk surga. Dia adalah ganjil dan mencintai yang ganjil”. [Muttafaqqun ‘alaihi dari Abu Huroiroh t ][1]

Yang dimaksud menghafalnya bukan hanya menghafal satu persatunya saja tanpa faham ma’na yang terkandung di dalamnya dan dapat mengaplikasikan dalam bentuk amal yang merupakan konsekwensi dari ma’na kandungan nama-nama Allah tersebut[2].

Misalnya Allah mempunyai nama Ar Rohmaan dan Ar Rohiim, terkandung di dalam kedua nama ini adalah sifat rohmah yaitu kasih sayang yang berkaitan dengan yang diberi kasih sayang tersebut, yang kasih sayang tersebut menyeluruh untuk segala makhluq hidup. Maka alam semesta dan seluruh kejadiannya adalah bentuk dan wujud dari kasih sayang Allah swt . Namun kasih sayang Allah itu ada yang mutlak dan ada yang tidak yaitu hanya sebagian kecil. Yang mutlak, Allah berikan untuk para Nabi, para Rosul, dan para wali-Nya dari kalangan orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Sedangkan orang-orang yang kafir dan tidak taat pada-Nya hanya mendapatkan sebagiannya saja yaitu di dunia mereka dapat bertahan hidup, akan tetapi di akhirat mereka akan di adzab oleh Allah swt.

Namun sebaliknya, orang-orang yang beriman pada-Nya dan beramal sholih yang didasari iman tersebut akan mendapatkan kasih sayang-Nya baik di dunia berupa kehidupan yang baik dan bahagia, dan sampai di akhirat mereka akan mendapatkan keni’matan yang abadi yaitu di surga.

Allah SWT berfirman:

))مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ((

Artinya: “Barang siapa yang beramal sholih baik laki-laki atau perempuan dan dia adalah mu’min maka sungguh-sungguh kami akan menghidupkan dia dengan kehidupan yang baik, dan akan kami balas mereka dengan pahala mereka yang lebih baik dari apa yang mereka lakukan”. [An Nahl:97]

Jadi apabila kita memahami demikian maka setiap kali kita mendapatkan keni’matan maka kita selalu ingat akan kasih sayang Allah I , semakin besar rasa syukur kita pada Allah SWT , dan semakin menambah keimanan kita pada Allah SWT Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

2. Memperhatikan ayat-ayat Allah SWT baik yang kauniyah (alam semesta) atau yang syar’iyah.

Allah SWT berfirman:

))أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ(17) وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ(18) وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ(19) وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ(20(((

Artinya: “Maka tidakkah mereka memperhatikan unta, bagaimana diciptakan? Dan langit, bagaimana ditinggikan? Dan gunung-gunung, bagaimana ditegakkan? Dan bumi, bagaimana dihamparkan?”. [Al Ghoosyiyah: 17-20]

Allah SWT juga berfirman:

))قُلِ انْظُرُوا مَاذَا فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا تُغْنِي الْآيَاتُ وَالنُّذُرُ عَنْ قَوْمٍ لَا يُؤْمِنُونَ((

Artinya: “Katakanlah, “Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi!” Tidaklah bermanfaat tanda-tanda (kebesaran Allah I) dan rosul-rosul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman”. [Yunus:101]

Setiap kali manusia bertambah ilmunya tentang apa yang Allah SWT ciptakan di alam semesta berupa keajaiban-keajaiban makhluq dan hikmah-hikmah yang dalam, maka bertambahlah keimanannya pada Allah SWT.

Hal ini telah banyak menyadarkan para ahli pengetahuan alam untuk memeluk Islam, karena kesesuaian antara ayat-ayat Allah SWT yang syar’iyah dengan ayat-ayat Allah SWT yang kauniyah berupa alam semesta dan penciptaannya. Yang tidaklah mungkin hal itu dapat terjadi dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan dan mengaturnya.

Demikian juga memperhatikan ayat-ayat Allah SWT yang syar’iyah, yaitu hukum-hukum yang dibawa oleh para Rosul, anda akan dapatkan di dalamnya hal-hal yang menakjubkan akal berupa hikmah-hikmah yang dalam dan rahasia-rahasia yang agung, yang dengan demikian dapat di ketahui bahwa syari’at ini turun dari sisi Allah SWT , dan bahwa syari’at itu dibangun di atas keadilan dan kasih sayang, maka dengan demikian bertambahlah imannya.

Salah satu contoh adalah hukuman rajam bagi para pezina, sepintas sepertinya begitu mengerikan dari sisi kemanusiaan. Akan tetapi hal ini akan terasa manfa’atnya juga dari isi kemanusiaan juga. Karena dengan ditegakkannya hukuman ini akan terjaga kehormatan manusia, dan membedakan manusia dari binatang. Kita melihat maraknya perzinahan baik yang legal maupun yang tidak dikarenakan tidak adanya hukum yang dapat membuat pelaku dan yang akan melakukannya berfikir akan akibat dari perbuatannya itu.

Dengan maraknya perzinahan maka Allah SWT menimpakan penyakit-penyakit baik fisik maupun moral. Dari fisik, menyebar virus HIV yang begitu mengerikan. Begitu juga moral, menjadikannya rendah dan tidak bermartabat. Sudahkan kita berfikir dan mengambil pelajaran?

Allah SWT berfirman:

))وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا((

Artinya: “Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Rob mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta”. [Al-Furqon:73]

3. Banyak berbuat ketaatan dan membaguskannya, karena amal perbuatan masuk dalam keimanan, dan jika hal itu masuk di dalamnya, maka dengan banyaknya ketaatan akan menyebabkan bertambahnya keimanan.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

))مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيْمَانِ((

Artinya: “Barang siapa diantara kalian melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, dan jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” [HR. Muslim][3]

Oleh sebab itu semakin besar amal sholih yang dilakukan maka semakin besar pula keimanan yang ada pada dirinya. Dan semakin kecil amal sholih yang dilakukan maka semakin kecil pula keimanan yang ada pada dirinya. Sesuai dengan hadits Rosul SAW di atas.

4. Meninggalkan kemaksiatan dalam rangka mendekatkan diri pada Allah swt ; karena yang demikian itu akan menambah keimanan manusia.

Alloh SWT berfirman:

))إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ((

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Alloh gemetar hatinya”. [Al Anfal:2]

As Sudiy mengatakan: Seorang laki-laki berkeinginan melakukan kedzoliman, (atau dia mengatakan) berkeinginan melakukan maksiat, lalu dikatakan padanya, ‘Bertakwalah pada Allah’. Kemudian orang itu merasa takut di dalam hatinya[4].

Rasa takut ini adalah tanda keimanan, semakin jauh dari kemaksiatan semakin besar pula keimanannya dan semakin takut untuk terjatuh dalam kemaksiatan. Dengan meniggalkan kemaksiatan ini berarti dia mendekat pada Allah SWT. Dan sebaliknya semakin seseorang tenggelam dalam maksiat semakin jauhlah dia dari Allah SWT .

Di dalam hadits Qudsi Allah SWT berfirman: “Barang siapa yang mendekatkan diri pada-Ku satu jengkal, maka Aku akan mendekat padanya satu hasta, barang siapa yang mendekatkan diri pada-Ku satu hasta, maka Aku akan mendekat padanya satu depa. Jika dia menghampiri-Ku dengan berjalan, maka Aku akan menghampirinya dengan berjalan cepat”[5]. [HR. Muslim]

Wassalam

Monday, 20 September 2010

Refleksi Idul Fitri Bagi Umat Islam

IDUL Fitri adalah hari raya yang datang berulangkali setiap 1 Syawal pada penanggalan Hijriyah. Umat Islam merasa bahagia dan senang tak terkira karena telah menyelesaikan ibadah puasa sebulan penuh.

Secara terminologi Idul Fitri mengandung dua arti. Ada yang mengartikan Idul Fitri, kembali kepada keadaan di mana umat Islam diperbolehkan lagi makan dan minum siang hari seperti biasa. Ada pula yang mengartikan Idul Fitri, kembali kepada kesucian atau kembali ke asal kejadian, yaitu fitrah, berarti suci. Kelahiran seorang manusia dalam kaca mata Islam, tidak dibebani dosa apapun.

Dari dua arti di atas penulis lebih condong kepada makna yang ke dua yaitu "kembali kepada kesucian". Pegangan ini bukan tanpa alasan. Mengingat, pada setiap hari raya Idul Fitri selalu terdengar dan terucap "min al-a'idiin wa al-fa'izin". Sebenarnya, apa maksud dari ucapan tersebut?

Survei membuktikan, dalam ucapan min al-a'idin wa al-fa'izin terdapat beberapa kalimat yang dibuang. Secara lughah kita tidak dapat mengerti tanpa ada tafsir sebelumnya. Tafsir tersebut adalah "Ila al-fitroti min al-a'idin wa anil hawa wa as-syayatin min al-fa'izin," artinya: kita kembali kepada fitroh (suci) dan kita telah menang dari hawa nafsu dan setan. Dalam artian, setelah satu bulan umat islam menyucikan diri jasmani-rohani (mengekang hawa nafsu) dengan harapan agar dosa-dosanya diampuni oleh Allah SWT, maka pada hari Idul Fitri mereka telah suci lahir dan batin. Inilah maksud dari ucapan min al-a'idin wa al-fa'izin.

Tiga Sikap

Idul Fitri merupakan simbol kemenangan lahir dan batin umat muslim. Setelah satu bulan lamanya berpuasa, menahan lapar, dahaga dan mengekang hawa nafsu. Setidaknya ada tiga sikap ketika merayakan Idul Fitri.

Tiga sikap yang harus kita punyai, yaitu:

1. Rasa penuh harap kepada Allah SWT (Raja’). Berharap agar diampuni dosa-dosa yang telah lalu. Janji Allah SWT akan ampunan itu sebagai buah dari "kerja keras" sebulan lamanya menahan hawa nafsu dengan berpuasa.

2. Melakukan evaluasi diri terhadap puasa yang telah dilaksanakan. Apakah puasa yang telah kita kerjakan sarat dengan makna, atau hanya sebatas puasa menahan lapar dan dahaga saja, sedangkan lidah, hati, dan mata tidak bisa ditahan dari perbuatan ma'siat. Kita harus terhindar dari sabda Nabi SAW yang artinya: "Banyak sekali orang yang berpuasa, yang hanya puasanya sekedar menahan lapar dan dahaga".

3. Mempertahankan nilai kesucian yang baru saja diraih. Tidak kehilangan semangat dalam ibadah karena lewatnya bulan Ramadhan, sebab predikat taqwa sepantasnya berkelanjutan hingga akhir hayat. Firman Allah SWT: "Hai orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa kepada-Nya dan janganlah sekali-kati kamu mati melainkan dalam keadaan ber-agama Islam" (QS. Ali Imran: 102).

Ketiga sikap inilah yang harus tampak sebagai bentuk hasil dari penggemblengan bulan suci Ramadhan.

Momentum Silaturrahim

Silaturahim (menyambung kasih sayang) dengan meminta maaf/melebur dosa merupakan tindakan yang mulia dan dianjurkan oleh agama. Hikmah dari silaturrahim sendiri mempererat kembali tali persaudaraan sesama muslim dan memperkokoh semangat kekeluargaan.

Dengan motif silaturrahim akan tersambung kembali yang selama ini putus demi terjalinnya keharmonisan. Yang demikian inilah yang dinamakan hakikat silaturrahim. Nabi saw. Bersabda: "Tidak bersilaturrahim (namanya) orang yang membalas kunjungan atau pemberian, tetapi (yang dinamakan bersilaturrahim adalah) yang menyambung apa yang putus." (Hadis Riwayat Bukhari).

Idul Fitri atau kembali ke fitrah akan sempurna tatkala terhapusnya dosa kita kepada Allah diikuti dengan terhapusnya dosa kita kepada sesama manusia. Terhapusnya dosa kepada sesama manusia dengan jalan kita memohon maaf dan memaafkan orang lain.

Setelah.....Hari Idul Fitri Hari Kemenangan....

Melihat orang-orang bergembira merayakan hari idul fitri saya sebenarnya ikut gembira. Tetapi mendengarkan kotbah Ustad bahwa hari 1 Syawal adalah hari kemenangan terhadap hawa nafsu, hari manusia menjadi suci kembali.

Masih banyak sodara kita dalam berIbadah bersifat lipstik. Betapapun mereka mencoba untuk sungguh-sungguh beribadah tetap saja hasilnya seperti lipstik di bibir, sebentar saja akan hilang. Lipstik itu juga hanya sekedar hiasan tidak mencerminkan kecantikan sebenarnya dari pemakainya. Jadi berIbadah hanya hiasan-hiasan saja, Ibadah yang tak memberikan dampak mendalam dan hasil yang mengubah KeImanan dalam diri seseorang yang beragama Islam.

Seperti contohnya sholat. Orang sholat seperti sebuah mesin. 5 kali sehari membaca Al Quran itu-itu juga malah sering dan banyak yang tidak mengerti arti bacaannya. Yang bersungguh-sungguh sholat jungkat-jungkit mengkhayalkan menyembah allah. Mereka berkhayal Tuhan melihat mereka sholat dan memperhatikan mereka. Setelah bertahun-tahun jungkat-jungkit dan berkhayal seperti itu, dari kecil sampai jadi tua, tetap saja Tuhan tidak pernah dekat dengan mereka. Mereka hanya perduli pada khayalan mereka sendiri bahwa mereka merasa dekat dengan Tuhan. Tetapi apakah Tuhan dekat dengan mereka tidak mereka tanyakan pada diri mereka.

Kemudian Ibadah Puasa. Dari pagi jam 4 sampai sore jam 6 tidak makan minum katanya menahan hawa nafsu. Tetapi Ibadah ini juga lipstik sifatnya, sebab nafsu makan dan birahi yang ditahan itu adalah suatu dorongan biologis normal manusia. Menahan dari nafsu-nafsu ini tidak akan membuat manusia secara spiritual meningkat karena hanya menahan kecenderungan normalnya. Nafsu-nafsu itu dan nafsu-nafsu lain misalnya kesombongan biasanya kemudian cenderung meningkat setelah puasa karena merasa telah menjadi suci lagi. Hasil dari puasa bagi semua orang adalah kelaparan di siang hari dan berat badan yang turun. Menjadi suci hanya khayalan mereka sendiri. Mereka tetap saja manusia yang penuh nafsu, baik sebelum puasa, pada waktu puasa maupun sesudah puasa.
Apakah keimanan meningkat? Apakah kita menjadi lebih penyayang, welas asih dan bijaksana? Apakah kita bisa mengatasi nafsu-nafsu? setelah melewati Ramadhan..?

Bertanya lah pada diri kita masing-masing....

By...Yusuf

Wednesday, 8 September 2010

PUASA TETAPI TIDAK SHOLAT...akibatnya....KAFIR DAN MURTAD...Benarkah..?

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin -rahimahullah- pernah ditanya: “Apa hukum orang yang berpuasa namun meninggalkan solat?”

Beliau rahimahullah menjawab:

“Puasa yang dilakukan oleh orang yang meninggalkan solat tidaklah diterima kerana orang yang meninggalkan solat adalah kafir dan murtad. Dalil bahwa meninggalkan shalat termasuk bentuk kekafiran adalah firman Allah Ta’ala,

“Jika mereka bertaubat, mendirikan solat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. Dan Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi kaum yang mengetahui.” (Qs. At Taubah [9]: 11)

Alasan lain adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Pembatas antara seorang muslim dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan solat.” (HR. Muslim no. 82)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

“Perjanjian antara kami dan mereka (orang kafir) adalah mengenai solat. Barangsiapa meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. Ahmad, At Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah. Dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani)

Pendapat yang mengatakan bahawa meninggalkan solat merupakan suatu kekafiran adalah pendapat majoriti sahabat Nabi bahkan dapat dikatakan pendapat tersebut adalah ijma’ (kesepakatan) para sahabat.

Abdullah bin Syaqiq -rahimahullah- (seorang tabi’in yang masyhur) mengatakan, “Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah pernah menganggap suatu amalan yang apabila seseorang meninggalkannya akan menyebabkan dia kafir selain perkara solat.”

[Perkataan ini diriwayatkan oleh At Tirmidzi dari 'Abdullah bin Syaqiq Al 'Aqliy; seorang tabi'in. Hakim mengatakan bahawa hadits ini bersambung dengan menyebut Abu Hurairah di dalamnya. Dan sanad (periwayat) hadits ini adalah shohih. Lihat Ats Tsamar Al Mustathob fi Fiqhis Sunnah wal Kitab, hal. 52, -pen]

Oleh karena itu, apabila seseorang berpuasa namun dia meninggalkan solat, puasa yang dia lakukan tidaklah sah (tidak diterima). Amalan puasa yang dia lakukan tidaklah bermanfaat pada hari kiamat nanti.

Oleh sebab itu, kami katakan, “Solatlah kemudian tunaikanlah puasa.” Adapun jika engkau puasa namun tidak solat, amalan puasamu akan tertolak kerana orang kafir (disebabkan meninggalkan solat) tidak diterima ibadah daripadanya.

BERAKHIRNYA RAMADHAN, SUKA atau DUKA Sodaraku ?????

Ramadhan akan meninggalkan kita dalam masa dua hari lagi. Bulan keberkatan, rahmat, keampunan sudah hampir menutup tirainya. Syaitan-syaitan hampir dilepaskan belenggunya, pintu neraka hampir dibuka. Namun kita sebagai manusia (termasuk diri ini), masih terleka dengan kegembiraan syawal lebih dari kelebihan ramadhan yang disebut.

Firman Allah dalam surah Al-Baqarah : 183

" Wahai orang-orang Yang beriman! kamu Diwajibkan berpuasa sebagaimana Diwajibkan atas orang-orang Yang dahulu daripada kamu, supaya kamu bertaqwa "

Dalam ayat diatas jelas menunjukkan hasil terhadap orang-orang yang berpuasa adalah sejauh mana taqwanya meningkat. Kita? Adakah taqwa kita meningkat? Sesungguhnya untunglah orang-orang yang berjaya mendapat hasil yang dijamin oleh ALLAH ayat diatas. Siapakah orang-orang tersebut?

Mereka ialah orang orang merasakan dirinya untuk menjadi lebih baik, gembira sewaktu kedatangan ramadhan dan sedih sewaktu kepergiannya. Mengapa mereka merasai begitu? Sudah tentulah karena ganjaran dan kebaikannya tidak ada di dalam bulan-bulan lain.

Antara kelebihan Ramadhan ialah :

Pahala kebaikan digandakan. MasyaALLAH. Bayangkan kalau diluar ramadhan setiap satu kebaikan akan diberi sepuluh ganjaran, apa lagi ramadhan? Sebagai contoh, dengan membaca al-Quran, ganjarannya mengikut berapa huruf yang dibaca. Jika satu surah al-Fatihah di baca pada luar bulan ramadhan, setiap huruf di beri ganjaran sepuluh kebaikan. Jika dibulan ramadhan, hanya dengan surah al-fatihah berganda-ganda ganjarannya. Apatah lagi yang menghabiskan satu Al-Quran. Begitu juga sedeqah dan sebagainya.

Allah membuka pintu keampunan seluas-luasnya. Sedangkan Rasulullah setiap hari bertaubat kepada ALLAH, apalagi lagi kita, manusia biasa, yang tidak diberi apa-apa jaminan syurga. Hanya orang-orang bijak sajalah yang mengambil peluang baik meminta keampunan di bulan ini. Setiap tangisan airmata yang keluar ikhlas kerana ALLAH itulah yang akan membantu menyelamatkan kita dari seksaan azab api neraka.

Malam lailatulqadar. Ganjaran yang ada pada malam ini sama seperti beribadat selama 1000 bulan atau bersamaan dengan 83 tahun. Mengikut salah satu pendapat ulama’ berdasarkan nas-nas, ia berlaku pada sepuluh malam ganjil sepuluh terakhir bulan ramadhan. Semua ciptaan ALLAH tunduk sujud dengan cara tersendiri pada malam itu, Inikan lagi manusia, yang diberi aqal, mereka perlulah lebih berusaha mencari malam ini.

Seperti firman Allah dalam (surah Al-Qadr : 1-5)

Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al-Quran) ini pada malam Lailatul-Qadar, dan apa jalannya Engkau dapat mengetahui apa Dia kebesaran malam Lailatul-Qadar itu? malam Lailatul-Qadar lebih baik daripada seribu bulan. pada malam itu, turun malaikat dan Jibril Dengan izin Tuhan mereka, kerana membawa Segala perkara (yang ditakdirkan berlakunya pada tahun Yang berikut); sejahteralah malam (yang berkat) itu hingga terbit fajar!

Doa dimakbulkan. Antara doa-doa akan ALLAH akan makbulkan dengan hebat ialah doa orang-orang yang berpuasa. Itupun jika puasa dilakukan dengan bersungguh-sungguh. Berusaha untuk mencapainya, bukan setakat berdoa sahaja.

Dengan pemergian Ramadhan pada kali ini diharapkan memberi satu kekuatan dan latihan untuk terus istiqamah dalam melakukan amalan-amalan. Oleh itu wahai rakan sekalian, sambutlah aidilfitri dengan kegembiraan yang berpada-pada, janganlah sampai menjadikan syawal sebagai hari balas dendam atas segala apa yang kita tahan selama bulan ramadhan.

Dan begitulah selanjutnya, jadikanlah ramadhan sebagai latihan untuk kamu menjadi insan yang lebih berguna.

Terima kasih ALLAH kerana memberikan aku kesempatan untuk menghabiskan ramadhan pada tahun ini, dan sampaikanlah aku ke ramadhan seterusnya. Amin, Ya Rabbal- Alamin

Hadith Rasulullah SAW:

Ya Allah, berkatilah kami pada bulan Rejab dan Syaaban dan sampaikanlah kami ke bulan Ramadhan”. -Riwayat Ahmad dan At Tabrani daripada Anas-

FADHILAT BERSEDEKAH (5 kebaikan Dunia dan 5 kebaikan Akhirat

BERSEDEKAH PADA SETIAP HARI DI DALAM BULAN RAMADHAN INI,TINGGI PAHALANYA KERANA KELEBIHAN SERTA KEMULIAAN RAMADHAN. BERSEDEKAH PADA BULAN RAMADHAN AKAN MENUTUP KESALAHAN PUASA,DIAMPUNKAN DOSA-DOSA YANG BANYAK DAN BERLIPAT GANDALAH PAHALANYA,DICURAHKAN RAHMAT OLEH ALLAH,DIJAUHKAN DARI AZAB NERAKA,DIDEKATKAN KE SYURGA DAN JAUHKAN DARI BALA...

FIRMAN ALLAH YANG BERMAKSUD : PERUMPAAN BAGI ORANG YANG MEMBELANJAKAN HARTANYA PADA JALAN ALLAH SEPERTIMANA SEBIJI BENIH YANG MENUMBUHKAN TUJUH TANGKAI,DAN PADA TIAP-TIAP TANGKAI ITU TERDAPAT SERATUS BIJI PULA.

RASULULLAH S.A.W. BERKATA:SEDEKAH ITU SESUATU YANG PALING BESAR..DIULANGI RASULULLAH SEBANYAK 3 KALI ( BEGITU SEKALI RASULULLAH MENEKANKAN KEBESARAN DAN KEMULIAAN BERSEDEKAH )

MAKSUD HADITS : SESUNGGUHNYA BERSEDEKAH ITU DAPAT MENUTUP 10 PINTU KEJAHATAN.

PARA ULAMA’ BERKATA : BERSEDEKAH ITU 10 KEPUJIAN IAITU 5 DI DUNIA DAN 5 DI AKHIRAT :-

5 KEPUJIAN DI DUNIA IALAH

1) DAPAT MENYUCIKAN HARTANYA
2) DAPAT MENYUCIKAN BADANNYA,
3) MENOLAK BALA DAN PENYAKIT
4) MENGEMBIRAKAN ORANG MISKIN DAN MENGEMBIRAKAN ORANG MUKMIN ADALAH SEBAIK-BAIK AMAL 5) BERKAT HARTANYA DAN ALLAH AKAN MELUASKAN REZEKINYA.

5 KEPUJIAN DI AKHIRAT IALAH :-

1) DINAUNGI ALLAH ORANG YANG BERSEDEKAH PADA HARI KIAMAT KETIKA SANGAT PANAS
2) RINGAN HISABNYA
3) BERAT TIMBANGAN AMALANNYA
4) MUDAH MELALUI TITIAN SIROTOLMUSTAQIM
5) BERTAMBAH DARJATNYA DI DALAM SYURGA.


DIANTARA WASIAT RASULULLAH S.A.W. KEPADA SYAIDINA ALI KARAMALLAHI WAJHAH :

WAHAI ALI...KETIKA SELESAI ALLAH MENJADIKAN SYURGA,MAKA SYURGA LANTAS BERTANYA: WAHAI TUHAN,UNTUK APAKAH ENGKAU JADIKAN AKU?JAWAB TUHAN: UNTUK ORANG YANG MURAH HATI DAN BAKTI...MAKA JAWAB SYURGA : YA,AKU REDHA. DAN KEMUDIAN BERKATALAH NERAKA: WAHAI TUHAN,UNTUK APAKAH PULA ENGKAU JADIKAN AKU? JAWAB TUHAN: UNTUK ORANG YANG KIKIR,KEDEKUT DAN SOMBONG...MAKA JAWAB NERAKA : YA,AKU REDHA UNTUK KEDUANYA.

WAHAI ALI...AKU LIHAT TERTULIS ATAS PINTU SYURGA : ENGKAU DIHARAMKAN TERHADAP ORANG YANG KIKIR,ORANG YANG MENDERHAKA KEPADA KEDUA IBUBAPANYA DAN ORANG YANG MENGADU DOMBAKAN ORANG.

WAHAI ALI... BARANGSIAPA YANG MEMBERI MAKAN KEPADA SEORANG MUSLIM DENGAN SENANG HATI,MAKA NESCAYA ALLAH TULISKAN BAGINYA SERIBU-RIBU KEBAJIKAN DAN DIHAPUSKAN SERIBU-RIBU KEJAHATAN DAN DIANGKAT BAGINYA SERIBU DARJAT...

WAHAI ALI...SESUNGGUHNYA ORANG YANG MURAH HATI ITU HAMPIR KEPADA ALLAH, HAMPIR KEPADA RAHMAT-NYA,JAUH DARIPADA SIKSAAN...DAN ADAPUN ORANG YANG KIKIR@KEDEKUT ITU JAUH DARIPADA ALLAH,JAUH DARIPADA RAHMAT-NYA DAN HAMPIR KEPADA SIKSAAN-NYA.

WAHAI ALI...TAKUTLAH KAMU DENGAN DOA ORANG YANG MURAH HATI,KERANA SESUNGGUHNYA ORANG YANG MURAH HATI ITU BILA MANA TERLANGGAR ATAU TERSUNGKUR,ALLAH AKAN MEMEGANG TANGANNYA...

BEGITULAH SERBA SEDIKIT TENTANG FADHILAT BERSEDEKAH...JUSTERU ITU MARILAH SAMA-SAMA KITA MENGAMBIL PELUANG INI SEMENTARA KITA MASIH DIBERIKAN PELUANG OLEH ALLAH...APATAH LAGI PADA BULAN YANG PENUH DENGAN KEBERKATAN DAN KEMULIAAN INI...DALAM ERTI KATA LAIN,BULAN RAMADHAN INI ADALAH BULAN UNTUK UMMAT NABI MUHAMMAD...DIMANA BULAN INI ALLAH AKAN MENERIMA DOA-DOA HAMBA-NYA,BULAN UNTUK HAMBA-NYA MENEMPAH SYURGA, BULAN YANG MUDAH DITERIMA KEAMPUNAN DAN TAUBAT HAMBA-NYA,BULAN UNTUK HAMBA-NYA PERBANYAKKAN AMAL IBADAH DAN BAKTI KEPADA ALLAH DAN BULAN YANG MUDAH UNTUK MENDAPATKAN KEREDHAAN ALLAH SUBHANAHU WATAALA...

BERUNTUNGLAH SESIAPA YANG MENGETAHUI DAN BERAMAL PADANYA,DAN SUNGGUH RUGI MEREKA YANG TAHU TAPI TIADA PULA MELAKUKANNYA...

JANGANLAH SAMPAI KITA MENGHADAP ALLAH NANTI DENGAN KEKOSONGAN TANGAN YANG MENGHAMPAKAN,KITA PULANG DENGAN KEMISKINAN AMAL YANG AMAT MENGECEWAKAN DAN DENGAN TANGISAN AIR MATA PENYESALAN YANG TIADA MEMBERIKAN APA-APA ERTI LAGI KEPADA KITA...

Sunday, 5 September 2010

Dosa-dosa Besar/Haram yang Harus Dijauhi

"Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman); mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa, sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah neraka.” [Ar Ra’d:35]

Allah telah menjanjikan surga bagi orang yang takwa. Yaitu orang yang mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah. Oleh karena itu hendaklah kita mempelajari apa saja larangan atau hal-hal yang diharamkan oleh Allah SWT agar kita tahu dan tidak mengerjakannya.

Pertama-tama kita harus tahu bahwa dosa itu adalah hal-hal yang membuat kita gelisah/tidak tenang dan malu jika diketahui orang lain:

Dari Nawas bin Sam’an ra bahwa Nabi SAW bersabda, “Kebajikan itu adalah budi pekerti yang baik, dan dosa itu adalah segala sesuatu yang menggelisahkan perasaanmu dan yang engkau tidak suka bila dilihat orang lain.” (HR. Muslim)

Dan dari Wabishah bin Ma’bad ra dia berkata: Aku datang kepada Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Apakah engkau datang untuk bertanya tentang kebajikan?” Aku berkata,” Ya.” Beliau bersabda, “Bertanyalah kepada hatimu. Kebajikan adalah apa yang menjadikan tenang jiwa dan hati, sedangkan dosa adalah apa yang menggelisahkan jiwa dan menimbulkan keraguan dalam hati, meskipun orang-orang terus membenarkanmu.” (Imam Ahmad bin Hambal dan Imam Ad-Darimi)

Janganlah memandang kecil kesalahan (dosa) tetapi pandanglah kepada siapa yang kamu durhakai (Allah). (HR. Aththusi)

Syirik Dosa yang Terbesar dan Tidak Diampuni Allah SWT

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” [An Nisaa’:116]

Contoh Syirik adalah menyembah adanya Tuhan lain selain Allah seperti Tuhan Yesus, Roh Kudus, Dewa Matahari, Brahma, Syiwa, Wisnu, dan sebagainya.

Yang sering dilakukan ummat Islam adalah syirik kecil seperti pergi ke Dukun atau Orang ”Pintar”, memakai jimat (cincin, kalung, dsb), mempercayai ramalan, dan sebagainya.

Barangsiapa mendatangi dukun peramal dan bertanya kepadanya tentang sesuatu (lalu mempercayainya) maka shalatnya selama empat puluh malam tidak akan diterima. (HR. Muslim)

Barangsiapa mendatangi dukun peramal dan percaya kepada ucapannya maka dia telah mengkufuri apa yang diturunkan Allah kepada Muhammad Saw. (Abu Dawud)

Sesungguhnya pengobatan dengan mantra-mantra, kalung-gelang penangkal sihir dan guna-guna adalah syirik. (HR. Ibnu Majah)

Barangsiapa membatalkan maksud keperluannya karena ramalan mujur-sial maka dia telah bersyirik kepada Allah. Para sahabat bertanya, “Apakah penebusannya, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ucapkanlah: “Ya Allah, tiada kebaikan kecuali kebaikanMu, dan tiada kesialan kecuali yang Engkau timpakan dan tidak ada ilah (tuhan / yang disembah) kecuali Engkau.” (HR. Ahmad)

Durhaka kepada Ibu dan Bapak (Orang Tua)

Termasuk dosa besar seorang yang mencaci-maki ibu-bapaknya. Mereka bertanya, “Bagaimana (mungkin) seorang yang mencaci-maki ayah dan ibunya sendiri?” Nabi Saw menjawab, “Dia mencaci-maki ayah orang lain lalu orang itu (membalas) mencaci-maki ayahnya dan dia mencaci-maki ibu orang lain lalu orang lain itupun (membalas) mencaci-maki ibunya. (Mutafaq’alaih)

Aku beritahukan yang terbesar dari dosa-dosa besar. (Rasulullah Saw mengulangnya hingga tiga kali). Pertama, mempersekutukan Allah. Kedua, durhaka terhadap orang tua, dan ketiga, bersaksi palsu atau berucap palsu. (Ketika itu beliau sedang berbaring kemudian duduk dan mengulangi ucapannya tiga kali, sedang kami mengharap beliau berhenti mengucapkannya). (Mutafaq’alaih)

Tidak Mengerjakan Shalat

Tidak mengerjakan shalat adalah dosa besar. Demikian pula meninggalkan kewajiban lainnya dalam rukun Islam seperti puasa, zakat dan Haji (bagi yang mampu).

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?”

Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak mengerjakan shalat” [Al Muddatstsir:42-43]

Membunuh Manusia yang Tidak Berdosa

Orang yang membunuh manusia secara zhalim (tidak dalam rangka beladiri) dihukum qishash (bunuh) [Al Israa’:33].

”Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.” [An Nisaa’:93]

Bunuh Diri

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” [An Nisaa’:29]

Berzina, dan Murtad

Dari ‘Aisyah Ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidak halal membunuh seorang muslim kecuali salah satu dari tiga hal: Orang yang telah kawin yang berzina, ia dirajam; orang yang membunuh orang Islam dengan sengaja, ia dibunuh; dan orang yang keluar dari agama Islam lalu memerangi Allah dan Rasul-Nya, ia dibunuh atau disalib atau dibuang jauh dari negerinya.” [Abu Dawud dan Nasa'i]

Riba (Mengambil Bunga)

Sering ada rentenir atau Bank yang menggunakan bunga berlipat ganda hingga akhirnya orang yang tidak mampu membayar kehilangan rumah karena disita.

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” [Al Baqarah:275]

Mengapa negeri kita sering dilanda bencana? Mungkin karena zina dan riba sudah merajalela di negeri ini.

Apabila perzinaan dan riba telah melanda suatu negeri maka mereka (penghuninya) sudah menghalalkan atas mereka sendiri siksaan Allah. (HR. Ath-Thabrani dan Al Hakim)

Menyerupai Lawan Jenis, Berzina dengan Hewan, dan Homoseks

Sering di TV pemain pria berpakaian perempuan untuk memancing tawa, padahal itu dosa. Laki-laki tidak boleh berdandan dan berpakaian seperti wanita, demikian pula sebaliknya.

Ada empat kelompok orang yang pada pagi dan petang hari dimurkai Allah. Para sahabat lalu bertanya, “Siapakah mereka itu, ya Rasulullah?” Beliau lalu menjawab, “Laki-laki yang menyerupai perempuan, perempuan yang menyerupai laki-laki, orang yang menyetubuhi hewan, dan orang-orang yang homoseks. (HR. Ahmad dan Ath-Thabrani)

Mengurangi Takaran atau Timbangan Ketika Berdagang

Sering pedagang sengaja mengurangi takaran atau timbangan ketika berdagang agar cepat untung. Padahal ini hanya membuat orang jadi kapok membeli di tempatnya lagi karena sudah ditipu. Selain itu ini adalah dosa dengan neraka Sijjiin sebagai balasannya.

Dari Ibnu Abbas dikemukakan bahwa ketika Rasulullah saw. sampai ke Madinah, diketahui bahwa orang-orang Madinah termasuk yang paling curang dalam takaran dan timbangan. Maka Allah menurunkan ayat ini (S.83:1,2,3) sebagai ancaman kepada orang-orang yang curang dalam menimbang. Setelah ayat ini turun orang-orang Madinah termasuk orang yang jujur dalam menimbang dan menakar.

(An-Nasa’i dan Ibnu Majah)

”Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. Yitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” [Al Muthoffifiin:1-3]

Menyembunyikan cacat barang atau barang palsu sama dengan di atas.

Minum Khamar / Minuman Keras, Berjudi, dan Memberi Sajen

Banyak orang Islam yang minum bir dan minuman beralkohol padahal itu haram.

Tiap minuman yang memabukkan adalah haram (baik sedikit maupun banyak). (HR. Ahmad)

”Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” [Al Maa’idah:90]

Mencuri

Korupsi, Mencuri, Copet atau merampok itu adalah mengambil hak orang lain dan haram hukumnya. Dalam Islam hukumnya potong tangan agar mereka jera. Kalau cuma penjara, maka kejahatan itu merajalela karena di penjara justru mereka dapat teman/network yang lebih luas.

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Al Maa-idah:38]

Jangan Membakar Makhluk Allah

Pernah kita baca ada masyarakat yang membakar pencuri karena marah. Padahal Allah melarang kita menghukum dengan siksaan Allah.

Jangan menyiksa dengan siksaan Allah (artinya: menyiksa dengan api). (HR. Tirmidzi dan Al-Baihaqi)

Tidak Mau Berjihad

”…mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.” Katakanlah: “Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)” jika mereka mengetahui.” [At Taubah:81]

Surat At Taubah ayat 44-50 dan 81-95 menyatakan bahwa orang yang tidak mau berjihad sebagai orang kafir dan munafik yang tidak boleh disholati jika meninggal.

”Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan jenazah seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri mendoakan di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.” [At Taubah:84]

Saat ini ada kelompok yang mencerca para mujahidin dan melarang ummat Islam berjihad dengan berbagai alasan. Untuk itu, ayat-ayat Al Qur’an di atas bisa jadi pedoman bagi kita agar tidak tersesat.

Tidak Mau Menjalankan Hukum Allah

Saat ini banyak ummat Islam yang tidak mau menjalankan hukum Allah. Mereka lebih suka memakai hukum yang dibuat kaum Yahudi dan Nasrani dari Barat.

”…Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik” [Al Maa’idah:47]

Mengkafirkan Sesama Muslim

Jangan mengkafirkan orang yang shalat karena perbuatan dosanya meskipun (pada kenyataannya) mereka melakukan dosa besar. Shalatlah di belakang tiap imam dan berjihadlah bersama tiap penguasa. (HR. Ath-Thabrani)

Berdusta

”Hai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tiada akan menyekutukan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidak akan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka dan tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Al Mumtahanah:12]

Mendapat/Membaca Informasi dari orang Fasik/Kafir tanpa Memeriksa

Sering orang Islam mendapatkan informasi dari media massa orang yang fasik ata kafir tanpa tabayyuun/memeriksa berita sehingga akhirnya ummat Islam menganggap Islam itu keras, Muslim adalah teroris, MUI lembaga yang tidak kredibel, dan sebagainya.

”Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” [Al Hujuraat:6]

Oleh karena itu ummat Islam hendaknya mencerna hati-hati berita dari kelompok kafir/Yahudi/Liberal seperti dari CNN, Fox, BBC, dan sebagainya agar tidak termakan fitnah bahwa pejuang kemerdekaan Palestina adalah teroris sementara negara Israel yang banyak membantai ummat Islam justru baik.

Carilah berita dari Media Islam seperti TV Al Jazeera, Hidayatullah.com, Eramuslim.com, dan sebagainya.

Berperang/Tawuran terhadap Sesama Muslim

Ummat Islam itu bersaudara. Sayangnya ternyata banyak peperangan/tawuran terhadap sesama Muslim. Iraq menyerang Iran, kemudian Iraq juga menyerang Kuwait dan Arab Saudi yang dibalas Arab Saudi dengan mengundang tentara kafir AS ke negaranya.

Di Indonesia pun sering terjadi tawuran sesama Muslim yang tak jarang memakan korban jiwa. Baik antar warga seperti warga Matraman, Otista Raya, Manggarai, atau pun anak-anak SMP, SMA, atau Universitas. Aneh jika mereka takut berjihad ke Palestina melawan penjajah Yahudi tapi begitu berani ”berperang” sampai mati terhadap sesama Muslim lewat tawuran.

”Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! Tapi kalau yang satu melanggar perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. Kalau dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu berlaku adil; sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” [Al Hujuraat;9]

Meniru Orang Kafir

Karena pengaruh film Holywood atau Sinetron TV, banyak remaja Islam yang meniru tingkah laku orang-orang kafir dari pacaran di malam Minggu, mengumbar aurat, hingga berzina.

Barangsiapa menyerupai (meniru-niru) tingkah-laku suatu kaum maka dia tergolong dari mereka. (HR. Abu Dawud)

Merendahkan dan Menghina Sesama Muslim

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” [Al Hujuraat:11]

Buruk Sangka dan Menggunjing

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” [Al Hujuraat:12]

Menghambur-hamburkan Uang atau Boros

Allah melarang ummat Islam hidup boros dengan menghabiskan uang untuk hal yang tidak bermanfaat atau berlebihan seperti membeli barang terlampau mewah dan banyak, merokok, membakar petasan, dan sebagainya. Orang yang boros adalah saudara setan, begitu firman Allah SWT.

”Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.” [Al Israa’:26-27]

Bermegah-megahan

Sering orang bermegah-megahan dalam soal banyak harta, anak, pengikut, kemuliaan, dan seumpamanya sehingga lalai dari beribadah kepada Allah SWT.

Dari Ibnu Buraidah dikemukakan bahwa ayat 102:1-2 turun berkenaan dengan dua qabilah Anshar. Bani Haritsah dan Bani Harts yang saling menyombongkan diri dengan kekayaan dan keturunannya dengan saling bertanya: “Apakah kalian mempunyai pahlawan yang segagah dan secekatan si Anu?” Mereka menyombongkan diri pula dengan kedudukan dan kekayaan orang-orang yang masih hidup. Mereka mengajak pula pergi ke kubur untuk menyombongkan kepahlawanan dari golongannya yang sudah gugur, dengan menunjukkan kuburannya. Ayat ini (S.102:1-2) turun sebagai teguran kepada orang-orang yang hidup bermegah-megah sehingga terlalaikan ibadahnya kepada Allah. (Ibnu Abi Hatim)

”Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur.

Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)” [At Takatsuur:1-3]

Mengumbar Aurat

Nabi SAW bersabda: ”Ada dua golongan dari penghuni neraka yang aku tidak sampai melihat mereka yaitu suatu kaum yang menyandang pecut seperti ekor sapi (yang) dipakai untuk memukuli orang-orang dan wanita-wanita berpakaian mini, telanjang. Mereka melenggang bergoyang. Rambutnya ibarat punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga atau mencium harumnya surga yang sebenarnya dapat dirasakan dari jarak sekian sekian. (HR. Muslim)

Memutus Silaturrahim / Hubungan Kekeluargaan

Orang yang memutus hubungan kekeluargaan tidak akan masuk surga. (Mutafaq’alaih)

Mengangkat Orang Kafir sebagai Wali, Pemimpin atau Pelindung

Kadang ada orang Islam yang memilih orang kafir dalam Pemilu sebagai pemimpin atau sebagai guru/pelindung bagi anak-anaknya, padahal masih ada orang Islam yang bisa dipercaya. Dalam An Nisaa’ ayat144 Allah akan menyiksa orang yang berbuat itu:

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali (pemimpin) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) ?” [An Nisaa’:144]

Kencing Tidak Dibasuh Air dan Tukang Adu Domba

Banyak pria yang kencing di jalan dan tidak membasuh kemaluannya dengan air (minimal 3x). Padahal itu akan mendapat siksa kubur. Begitu pula orang yang suka mengadu domba.

Ibnu Abbas berkata, “Nabi Muhammad saw. melewati salah satu dinding dari dinding-dinding Madinah atau Mekah, lalu beliau mendengar dua orang manusia yang sedang disiksa dalam kuburnya. Nabi Muhammad saw lalu bersabda,’ Sesungguhnya, mereka benar-benar sedang disiksa dan keduanya tidak disiksa karena dosa besar.’ Beliau kemudian bersabda, ‘Yang seorang tidak bersuci dalam kencing dan yang lain berjalan ke sana ke mari dengan menebar fitnah (mengadu domba / memprovokasi).’ Beliau kemudian meminta diambilkan pelepah korma yang basah, lalu dibelah menjadi dua, dan beliau letakkan pada masing-masing kuburan itu satu belahan. Lalu dikatakan, ‘Wahai Rasulullah, mengapakah engkau berbuat ini?’ Beliau bersabda, ‘Mudah-mudahan keduanya diringankan selama dua belah pelepah itu belum kering.’” [HR Bukhari]

Selain hal di atas dilarang pula berbagai penyakit hati seperti Sombong, Riya, Kikir, Dengki, dan sebagainya.

(Dikatakan kepada mereka): “Masuklah kamu ke pintu-pintu neraka Jahannam, sedang kamu kekal di dalamnya. Maka itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong.” [Al Mu’miin

”Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya' kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.” [Al Anfaal:47]

”Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (kikir) dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (royal) karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” [Al Israa’:29]

” dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki.” [Al Falaq:5]

Itulah daftar perbuatan dosa yang diharamkan Allah SWT semoga kita terhindar dari itu semua. Jika ada dosa tersebut yang kita perbuat, semoga Allah SWT memberi kita kekuatan untuk menghentikannya serta bertobat kepada Allah SWT.

Dari Anas bin Malik ra dia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Allah SWT berfirman, “Wahai anak Adam, sepanjang engkau memohon kepada-Ku dan berharap kepada-Ku akan Aku ampuni apa yang telah kamu lakukan. Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika dosa-dosamu setinggi awan di langit kemudian engkau meminta ampunan kepada-Ku akan Aku ampuni. Wahai anak Adam, sesungguhnya jika engkau datang membawa kesalahan sebesar dunia, kemudian engkau datang kepada-Ku tanpa menyekutukan Aku dengan sesuatu apapun, pasti Aku akan datang kepadamu dengan ampunan sebesar itu pula.” (HR. Tirmidzi,

“..Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” [An-Nuur:31)

“ Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Az-Zumar:53]

Media Islam – Belajar Islam sesuai Al Qur’an dan Hadits

www.media-islam.or.id