Saudaraku, ketahuilah bahwa hati adalah ibarat sebuah benteng. Setan sebagai musuh kita selalu ingin memasuki benteng tersebut. Setan senantiasa ingin memiliki dan menguasai benteng itu. Tidak mungkin benteng tersebut bisa terjaga selain adanya penjagaan yang ketat pada pintu-pintunya. Pintu-pintu tersebut tidak bisa terjaga kecuali jika seseorang mengetahui pintu-pintu tadi. Setan tidak bisa terusir dari pintu tersebut kecuali jika seseorang mengetahui cara setan memasukinya. Cara setan untuk masuk dan apa saja pintu-pintu tadi adalah sifat seorang hamba dan jumlahnya amatlah banyak. Pada saat ini kami akan menunjukkan pintu-pintu tersebut yang merupakan pintu terbesar yang setan biasa memasukinya. Semoga Allah memberikan kita pemahaman dalam permasalah ini.
Pintu pertama:
Ini adalah pintu terbesar yang akan dimasuki setan yaitu hasad (dengki) dan tamak. Jika seseorang begitu tamak pada sesuatu, ketamakan tersebut akan membutakan, membuat tuli dan menggelapkan cahaya kebenaran, sehingga orang seperti ini tidak lagi mengenal jalan masuknya setan. Begitu pula jika seseorang memiliki sifat hasad, setan akan menghias-hiasi sesuatu seolah-olah menjadi baik sehingga disukai oleh syahwat padahal hal tersebut adalah sesuatu yang mungkar.
Pintu kedua:
Ini juga adalah pintu terbesar yaitu marah. Ketahuilah, marah dapat merusak akal. Jika akal lemah, pada saat ini tentara setan akan melakukan serangan dan mereka akan menertawakan manusia. Jika kondisi kita seperti ini, minta perlindunganlah pada Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إذا غضب الرجل فقال : أعوذ بالله سكن غضبه
“Jika seseorang marah, lalu dia mengatakan: a’udzu billah (aku berlindung pada Allah), maka akan redamlah marahnya.” (As Silsilah Ash Shohihah no. 1376. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih)
Pintu ketiga:
Yaitu sangat suka menghias-hiasi tempat tinggal, pakaian dan segala perabot yang ada. Orang seperti ini sungguh akan sangat merugi karena umurnya hanya dihabiskan untuk tujuan ini.
Pintu keempat:
Yaitu kenyang karena telah menyantap banyak makanan. Keadaan seperti ini akan menguatkan syahwat dan melemahkan untuk melakukan ketaatan pada Allah. Kerugian lainnya akan dia dapatkan di akhirat sebagaimana dalam hadits:
فَإِنَّ أَكْثَرَهُمْ شِبَعًا فِى الدُّنْيَا أَطْوَلُهُمْ جُوعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Sesungguhnya orang yang lebih sering kenyang di dunia, dialah yang akan sering lapar di hari kiamat nanti.” (HR. Tirmidzi. Dalam As Silsilah Ash Shohihah, Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih)
Pintu kelima:
Yaitu tamak pada orang lain. Jika seseorang memiliki sifat seperti ini, maka dia akan berlebih-lebihan memuji orang tersebut padahal orang itu tidak memiliki sifat seperti yang ada pada pujiannya. Akhirnya, dia akan mencari muka di hadapannya, tidak mau memerintahkan orang yang disanjung tadi pada kebajikan dan tidak mau melarangnya dari kemungkaran.
Pinta keenam:
Yaitu sifat selalu tergesa-gesa dan tidak mau bersabar untuk perlahan-lahan. Padahal terdapat sebuah hadits dari Anas, di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
التَّأَنيِّ مِنَ اللهِ وَ العُجْلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ
“Sifat perlahan-lahan (sabar) berasal dari Allah. Sedangkan sifat ingin tergesa-gesa itu berasal dari setan.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya’la dalam musnadnya dan Baihaqi dalam Sunanul Qubro. Syaikh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shoghir mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Pintu ketujuh:
Yaitu cinta harta. Sifat seperti ini akan membuat berusaha mencari harta bagaimana pun caranya. Sifat ini akan membuat seseorang menjadi bakhil (kikir), takut miskin dan tidak mau melakukan kewajiban yang berkaitan dengan harta.
Pintu kedelapan:
Yaitu mengajak orang awam supaya ta’ashub (fanatik) pada madzhab atau golongan tertentu, tidak mau beramal selain dari yang diajarkan dalam madzhab atau golongannya.
Pintu kesembilan:
Yaitu mengajak orang awam untuk memikirkan hakekat (kaifiyah) dzat dan sifat Allah yang sulit digapai oleh akal mereka sehingga membuat mereka menjadi ragu dalam masalah paling urgen dalam agama ini yaitu masalah aqidah.
Pintu kesepuluh:
Yaitu selalu berburuk sangka terhadap muslim lainnya. Jika seseorang selalu berburuk sangka (bersu’uzhon) pada muslim lainnya, pasti dia akan selalu merendahkannya dan selalu merasa lebih baik darinya. Seharusnya seorang mukmin selalu mencari udzur dari saudaranya. Berbeda dengan orang munafik yang selalu mencari-cari ‘aib orang lain.
Semoga kita dapat mengetahui pintu-pintu ini dan semoga kita diberi taufik oleh Allah untuk menjauhinya.
Rujukan: Mukhtashor Minhajul Qoshidin, Ibnu Qudamah Al Maqdisiy
Friday, 6 August 2010
IMAN ADALAH OBAT JIWA DAN FISIK
Sebelum revolusi sains dan teknologi dan munculnya berbagai peralatan canggih, manusia belum dapat memahami secara pasti mekanisme dan fungsi akal yang membedakan manusia dengan hewan dan pembatasan tempatnya pada otak. Perlahan-lahan tempat-temapt yang terkait dengan indera, bicara dan gerak ditemukan. Penemuan mutakhir yang amat mengagumkan ialah diketahuninya sentra di otak yang aktif disebabkan keimanan dan ibadah yang berfungsi untuk menyeimbangkan peran kejiwaan dan fisik. Hal tersebut menetapakan prinsip penciptaan bahwa iman adalah fitrah yang tertanam dalam jiwa manusia. Jiwa yang khusyuk akan mempengaruhi kesehatan jiwa dan fisik.
Peneltian-penelitian ilmiah akhir-akhir ini telah mengagetkan kita bahwa iman kepada Allah dan beribadah kepada-Nya merupakan dorongan fitrah yang memiliki mekanisme dan berpusat di otak manusia. Bila seseorang tidak piawai dalam mengoperasikannya maka ia telah dengan sengaja untuk tidak berbeda dengan hewan yang mengakibatkan kehilangan keseimbangan jiwa dan fisik. Yang amat mengagumkan lagi ialah bahwa pengoperasian mekanisme tersebut sesuai dengan arahan-arahan agama yang mencerminkan gambaran yang amat sempurna, konprehensif dan bersih, sebagaimana yang tertuang dalam Al-Qur’an Al-Karim sebagai manhajul hayah (konsep hidup). Bukan hanya itu, akhir-kahir ini, dalam Al-Qur’an juga ditemukan berbagai fakta ilmiyah lainnya yang sangat menambah kekuatan iman kita.
Para ahli jiwa amat concern meneliti kaitan antara fisik dan psikis manusia dan pengaruh masing-masing di antara kediuanya. Akhirnya diketahuilah bahwa penyakit fisik memungkinkan terjadinya tekanan jiwa atau kemungkina berakar dari masalah kejiwaan (psikis). Lalu lahir sebuah cabang ilmu jiwa dengan nama Psychosomatic.
Dr. Badar Al-Anshori menjelaskan sebagian peneliti memastikan bahwa pessimism (pesimis) menambah kemungkinan besarnya manusia ditimpa penyakit fisik seperti kangker sebagaimana pesimis juga erat kaitannya dengan berbagai goncangan jiwa seperti stress, putus asa dan depresi.
Berbagai penelitian yang dilakukan terhadap penderita penyakit kangker menjelaskan adanya hubungan positif antara pesimis dan kecepatan penyebaran penyakit kangker tersebut. Perasaan putus asa juga menyebabkan cepatnya penyebaran penyakit kangker. Sebaliknya, iman dan ridha terhadap keputusan Allah menyebakan terjadinya self teratment (pengobatan mandiri) dalam sebagian kasus kesembuhan kangker.
Sebagai berita gembiranya ialah ditemukannya sebuah pusat di otank yang aktif melakukan renungan (meditation) yang disertai ibadah dan mengembalikan fungsi fisik dasar kepada kondisi istirahat (state rest) yang mendukung fitrah keimanan dan pengaruh fisiknya.
Gambar sebuah aktivitas pada otak sebelum (sebelah kiri pembaca) dan sesudah (sebelah kanan pembaca) berfikir, khusyuk dan merenung, terdapat sebuah lubang/pusat pada baseline (sebelah kanan) yang akktif dengan berfikir, khuyuk dan merenung, dibandingkan dengan kondisi biasa (sebelah kiri)
Kesimpulan penelitian ilmiah yang diterbitkan pertama kali pada tahun 2001 dari hasil penggunaan teknologi baru scanning terhadap otak yang dilakukan oleh sebuah team ilmiah yang dipimpin DR. Andrew Newberg, professor Radiology pada fakultas kedokteran Universitas Philadelphia, USA ialah : Kepercayaan kepada Allah adalah desain dasar (design in built) yang sudah ada dalam otak. Sebab itu, tidak mungkin seseorang dapat terlepas darinya kecuali dengan pura-pura buta terhadap fitrah yang lurus yang menjadikan manusia terdorong untuk beragama sepanjang sejarah.
Pengingkaram terhadap kecenderungan keimanan tersebut berarti mengabaikan kekuatan/kemampuan yang dahsyat yang berkembang sehingga memungkinkan seseorang mengenal kekuasaan Allah dengan berfikir dan meneliti ciptaan-Nya. Menurut Prof. Andrew Newberg, bahwa manusia dapat dikatakan diarahkan oleh satu kekuatan terhadap agama (religion for wired-hard). Sebabliknya, penelitian ilmiah sama sekali tidak mungkin menceritakan kepada kita secara langsung akan Dzat Allah… Akan tetapi ia dapat menceritakan kepada kita bagaimana Dia (Allah) mencipatakan manusia agar mereka mengenal-Nya dan beribadah kepada-Nya.
Penelitian Ilmiah juga dapat menceritakan kepada kita bahwa beribadah kepada Allah adalah tugas, sedangkan beriman kepada-Nya adalah tuntutan alamiiah sama halnya dengan makan dan minum. Otak manusia bukan hanya sebuah alat sebagai chip yang bertugas untuk beriman kepada Allah. Akan tetapi ia juga disiapkan untuk melaksanakan tugas ibadah untuk menjaga keselamatan jiwa dan fisik (physicist and physic) dengan arahan-arahan praktek aktif melalui sistematika saraf dan hormone yang saling terikat.
Dengan demikian, keyakinan kita akan keberadaan dan kekuasaaan Allah semakin bertambah. Jika tidak, untuk apa gunanya kekuatan/kemampuan dahsyat yang diberikan kepada manusia yang membedakan antara mereka dengan semua makhluk hidup di muka bumi? Sebab itu, iman kepada Allah dalam penelitian-penelitian ilmiah moderen bukanlah seperti filsafat dan khayalan masyarakat sebagaimana yang didengung-dengunkan oleh kalangan atheist (kaum darwinis evolutionist dan komunis) yang tidakaada sandaran ilmiahnya pada awal abad 20. Dugaan mereka telah nyata kegagalannya di mana mereka menduga bahwa manusialah yang menciptakan agama merke sendiri, khususnya setelah ditemukannya fakta ilmiah di atas bwa manusia telah Allah ciptakan beragama secara alami dan memberi mereka kekuatan/ kemampuan untuk mengenal dan beribadah kepada-Nya.
Sebagaimana seseorang akan bersih jiak ia rutin berudhuk (bersuci dari hadas kecil), kendatipun ia bukan muslim. Demikian pula ia akan meraih kebaikan jika ia praktekkan prilaku-prilaku ibadah seperti berfikir, khusyuk dan merenung, karena ia mengoperasikan pusat-puast yang mirip dengan pusat-pusat keimanan dalam otak yang bekerja untuk rileksasi dan terlepas dari perasaan-perasaan negative seperti ketakutan, kegelisahan, dan stress. Saat itulah seseorang berpindah dari kondisi keterasingan dan kesendirian kepada kondisi rileks dan tenang, kendatipun ia tidak mendapatkan jatah akhirat (karena tidak beriman kepada Allah).
Telah diterbitkan beberapa studi ilmiah yang menjelaskan bagaiman iman kepada Allah merupakan fitrah yang tertanam dalam diri manusia dan mengopersikan mekanismenya dengan ibadah adalah jalan menuju sehat dan bahagia. Di antaranya buku : Iman Kepada Allah Tertanam Dengan Kuat dalam Diri Kita, karya Dean H. Hamer, 2005, dan buku : Iman dan Kesehatan, karya Jeff Levin Ph.D, dan buku : Iman, Kesehatan dan Kesuksesan, karya Andrew Perriman.
Demiakianlah bahwa tenggelam dalam ibadah membuka cakrawala perasaan ketinggian dan memberikan bantuan untuk terlepas dari berbagai kepediahan dan tekanan jiwa serta kesembuhan dari berbagai kegoncangan seperti kegelisahan, stress, depresi dengan berbagai efek fisik lainnya.
Pelaksanaan ibada secara teratur akan memperbaharui kemampuan untuk pindah ke alam yang jiwa tenang di dalamnya dan terhindar dari tekanan-tekanan. Dalam kondisi seperti itu, seseorang akan tidak lagi concern terhadap alam luar (lahiriah yang menekan di sekitarnya) kendati bertambah. Barang kali dalam tingkat tertentu, kekuatannya akan bertambah untuk menanggung beban kepedihan anggota fisik, seperti yang dikatakan DR. Lawrence Mickeny, direktur Lemabaga Amerika Untuk Pengobatan Kegoncangan Otak, bahwa melaksanakan perenungan yang mendalam sampai khusyuk dapat menolong mengalahkan rasa kepedihan jiwa dan perasaan down, dan mampu mengembalikan keseimbangan dalam mendistribusikan aktivitas pada pusat-pusat otak serta dapat mengosongkan wadah perasaan celaka (bahaya) da kehilangan harapan kendati bagi mereka yang tidak beriman kepada Tuhan sekalipun.
Apa yang menjadi concern kita sebagai Muslim ialah bahwa Syariat Islam yang suci ini telah mendahului penemuan-penemuan tersebut lebih dari 14 abad dalam hal memotivasi berzikir kepada Allah, menegakkan shalat. Islam juga telah menyanjung peran iman dan khuysuk dalam merileksasi jiwa. Allah berfirman : Orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan hati mereka tenang dengan dzikrullah (mengingat Allah). Ingatlah! Denan mengingat Allah itu hati akan tenang. Orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, keberuntunganlah bagi mereka dan bagi mereka sebaik-sebaik tempat kembali (Syurga)”. (Q.S. Arra’du / 13 : 28 – 29)
Akhirnya, kita berucap : Maha Suci Engkau Yaa Allah yang telah memilih kami menjadi Muslim/ Muslimah, Mukmin/Mukminah.
Yaa Allah! Kuatkanlah iman kami. Tambahlah ilmu dan ketaatan kami. Matikanlah kami dalam Husnul Khatimah.. Amin....
Dr. Mohamad Daudah
Commission on Scientific Signs of Qur'an & Sunnah
Peneltian-penelitian ilmiah akhir-akhir ini telah mengagetkan kita bahwa iman kepada Allah dan beribadah kepada-Nya merupakan dorongan fitrah yang memiliki mekanisme dan berpusat di otak manusia. Bila seseorang tidak piawai dalam mengoperasikannya maka ia telah dengan sengaja untuk tidak berbeda dengan hewan yang mengakibatkan kehilangan keseimbangan jiwa dan fisik. Yang amat mengagumkan lagi ialah bahwa pengoperasian mekanisme tersebut sesuai dengan arahan-arahan agama yang mencerminkan gambaran yang amat sempurna, konprehensif dan bersih, sebagaimana yang tertuang dalam Al-Qur’an Al-Karim sebagai manhajul hayah (konsep hidup). Bukan hanya itu, akhir-kahir ini, dalam Al-Qur’an juga ditemukan berbagai fakta ilmiyah lainnya yang sangat menambah kekuatan iman kita.
Para ahli jiwa amat concern meneliti kaitan antara fisik dan psikis manusia dan pengaruh masing-masing di antara kediuanya. Akhirnya diketahuilah bahwa penyakit fisik memungkinkan terjadinya tekanan jiwa atau kemungkina berakar dari masalah kejiwaan (psikis). Lalu lahir sebuah cabang ilmu jiwa dengan nama Psychosomatic.
Dr. Badar Al-Anshori menjelaskan sebagian peneliti memastikan bahwa pessimism (pesimis) menambah kemungkinan besarnya manusia ditimpa penyakit fisik seperti kangker sebagaimana pesimis juga erat kaitannya dengan berbagai goncangan jiwa seperti stress, putus asa dan depresi.
Berbagai penelitian yang dilakukan terhadap penderita penyakit kangker menjelaskan adanya hubungan positif antara pesimis dan kecepatan penyebaran penyakit kangker tersebut. Perasaan putus asa juga menyebabkan cepatnya penyebaran penyakit kangker. Sebaliknya, iman dan ridha terhadap keputusan Allah menyebakan terjadinya self teratment (pengobatan mandiri) dalam sebagian kasus kesembuhan kangker.
Sebagai berita gembiranya ialah ditemukannya sebuah pusat di otank yang aktif melakukan renungan (meditation) yang disertai ibadah dan mengembalikan fungsi fisik dasar kepada kondisi istirahat (state rest) yang mendukung fitrah keimanan dan pengaruh fisiknya.
Gambar sebuah aktivitas pada otak sebelum (sebelah kiri pembaca) dan sesudah (sebelah kanan pembaca) berfikir, khusyuk dan merenung, terdapat sebuah lubang/pusat pada baseline (sebelah kanan) yang akktif dengan berfikir, khuyuk dan merenung, dibandingkan dengan kondisi biasa (sebelah kiri)
Kesimpulan penelitian ilmiah yang diterbitkan pertama kali pada tahun 2001 dari hasil penggunaan teknologi baru scanning terhadap otak yang dilakukan oleh sebuah team ilmiah yang dipimpin DR. Andrew Newberg, professor Radiology pada fakultas kedokteran Universitas Philadelphia, USA ialah : Kepercayaan kepada Allah adalah desain dasar (design in built) yang sudah ada dalam otak. Sebab itu, tidak mungkin seseorang dapat terlepas darinya kecuali dengan pura-pura buta terhadap fitrah yang lurus yang menjadikan manusia terdorong untuk beragama sepanjang sejarah.
Pengingkaram terhadap kecenderungan keimanan tersebut berarti mengabaikan kekuatan/kemampuan yang dahsyat yang berkembang sehingga memungkinkan seseorang mengenal kekuasaan Allah dengan berfikir dan meneliti ciptaan-Nya. Menurut Prof. Andrew Newberg, bahwa manusia dapat dikatakan diarahkan oleh satu kekuatan terhadap agama (religion for wired-hard). Sebabliknya, penelitian ilmiah sama sekali tidak mungkin menceritakan kepada kita secara langsung akan Dzat Allah… Akan tetapi ia dapat menceritakan kepada kita bagaimana Dia (Allah) mencipatakan manusia agar mereka mengenal-Nya dan beribadah kepada-Nya.
Penelitian Ilmiah juga dapat menceritakan kepada kita bahwa beribadah kepada Allah adalah tugas, sedangkan beriman kepada-Nya adalah tuntutan alamiiah sama halnya dengan makan dan minum. Otak manusia bukan hanya sebuah alat sebagai chip yang bertugas untuk beriman kepada Allah. Akan tetapi ia juga disiapkan untuk melaksanakan tugas ibadah untuk menjaga keselamatan jiwa dan fisik (physicist and physic) dengan arahan-arahan praktek aktif melalui sistematika saraf dan hormone yang saling terikat.
Dengan demikian, keyakinan kita akan keberadaan dan kekuasaaan Allah semakin bertambah. Jika tidak, untuk apa gunanya kekuatan/kemampuan dahsyat yang diberikan kepada manusia yang membedakan antara mereka dengan semua makhluk hidup di muka bumi? Sebab itu, iman kepada Allah dalam penelitian-penelitian ilmiah moderen bukanlah seperti filsafat dan khayalan masyarakat sebagaimana yang didengung-dengunkan oleh kalangan atheist (kaum darwinis evolutionist dan komunis) yang tidakaada sandaran ilmiahnya pada awal abad 20. Dugaan mereka telah nyata kegagalannya di mana mereka menduga bahwa manusialah yang menciptakan agama merke sendiri, khususnya setelah ditemukannya fakta ilmiah di atas bwa manusia telah Allah ciptakan beragama secara alami dan memberi mereka kekuatan/ kemampuan untuk mengenal dan beribadah kepada-Nya.
Sebagaimana seseorang akan bersih jiak ia rutin berudhuk (bersuci dari hadas kecil), kendatipun ia bukan muslim. Demikian pula ia akan meraih kebaikan jika ia praktekkan prilaku-prilaku ibadah seperti berfikir, khusyuk dan merenung, karena ia mengoperasikan pusat-puast yang mirip dengan pusat-pusat keimanan dalam otak yang bekerja untuk rileksasi dan terlepas dari perasaan-perasaan negative seperti ketakutan, kegelisahan, dan stress. Saat itulah seseorang berpindah dari kondisi keterasingan dan kesendirian kepada kondisi rileks dan tenang, kendatipun ia tidak mendapatkan jatah akhirat (karena tidak beriman kepada Allah).
Telah diterbitkan beberapa studi ilmiah yang menjelaskan bagaiman iman kepada Allah merupakan fitrah yang tertanam dalam diri manusia dan mengopersikan mekanismenya dengan ibadah adalah jalan menuju sehat dan bahagia. Di antaranya buku : Iman Kepada Allah Tertanam Dengan Kuat dalam Diri Kita, karya Dean H. Hamer, 2005, dan buku : Iman dan Kesehatan, karya Jeff Levin Ph.D, dan buku : Iman, Kesehatan dan Kesuksesan, karya Andrew Perriman.
Demiakianlah bahwa tenggelam dalam ibadah membuka cakrawala perasaan ketinggian dan memberikan bantuan untuk terlepas dari berbagai kepediahan dan tekanan jiwa serta kesembuhan dari berbagai kegoncangan seperti kegelisahan, stress, depresi dengan berbagai efek fisik lainnya.
Pelaksanaan ibada secara teratur akan memperbaharui kemampuan untuk pindah ke alam yang jiwa tenang di dalamnya dan terhindar dari tekanan-tekanan. Dalam kondisi seperti itu, seseorang akan tidak lagi concern terhadap alam luar (lahiriah yang menekan di sekitarnya) kendati bertambah. Barang kali dalam tingkat tertentu, kekuatannya akan bertambah untuk menanggung beban kepedihan anggota fisik, seperti yang dikatakan DR. Lawrence Mickeny, direktur Lemabaga Amerika Untuk Pengobatan Kegoncangan Otak, bahwa melaksanakan perenungan yang mendalam sampai khusyuk dapat menolong mengalahkan rasa kepedihan jiwa dan perasaan down, dan mampu mengembalikan keseimbangan dalam mendistribusikan aktivitas pada pusat-pusat otak serta dapat mengosongkan wadah perasaan celaka (bahaya) da kehilangan harapan kendati bagi mereka yang tidak beriman kepada Tuhan sekalipun.
Apa yang menjadi concern kita sebagai Muslim ialah bahwa Syariat Islam yang suci ini telah mendahului penemuan-penemuan tersebut lebih dari 14 abad dalam hal memotivasi berzikir kepada Allah, menegakkan shalat. Islam juga telah menyanjung peran iman dan khuysuk dalam merileksasi jiwa. Allah berfirman : Orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan hati mereka tenang dengan dzikrullah (mengingat Allah). Ingatlah! Denan mengingat Allah itu hati akan tenang. Orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, keberuntunganlah bagi mereka dan bagi mereka sebaik-sebaik tempat kembali (Syurga)”. (Q.S. Arra’du / 13 : 28 – 29)
Akhirnya, kita berucap : Maha Suci Engkau Yaa Allah yang telah memilih kami menjadi Muslim/ Muslimah, Mukmin/Mukminah.
Yaa Allah! Kuatkanlah iman kami. Tambahlah ilmu dan ketaatan kami. Matikanlah kami dalam Husnul Khatimah.. Amin....
Dr. Mohamad Daudah
Commission on Scientific Signs of Qur'an & Sunnah
Dua Belas Langkah Agar Puasa Kita Sempurna
Agar puasa kita dapat sempurna ada beberapa tips yang mesti kitaperhatikan. Untuk itu Al-Madina mencoba mengangkat sebuah tulisan dari Syaikh Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim. Jarullah dalam buku beliau yang berjudul Risalah Ramadhan tentang langkah-langkah menggapai kesempurnaan ibadah puasa yang berisikan:
1. Makanlah sahur, sehingga membantu kekuatan fisikmu selama berpuasa. Rasulullah shallallahu alaihi wassallam bersabda: "Makan sahurlah kalian, sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat berkah." (HR. Bukhari dan muslim). "Bantulah (kekuatan fisikmu) untuk berpuasa di siang hari dengan makan sahur, dan untuk shalat malam dengan tidur siang." (HR. Ibnu Khuzaimah)
2. Akan lebih utama jika makan sahur itu diakhirkan waktunya, sehingga mengurangi rasa lapar dan haus. Hanya saja harus hati-hati untuk itu anda hendaknya telah berhenti dari makan dan minum beberapamenit sebelum terbit fajar, agar anda tidak ragu-ragu.
3. Segeralah berbuka jika matahari benar-benar telah tenggelam. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : "Manusia senantiasa dalam kebaikan, selama mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur" (HR. Al Bukhari, Muslim dan At Tirmidzi)
4. Usahakan mandi dari hadats besar sebelum terbit fajar, agar bisa melakukan ibadah dalam keadaan suci.
5. Manfaatkan bulan Ramadhan dengan sesuatu yang terbaik yang pernah diturunkan di dalamnya, yakni membaca Al Quran. "Sesungguhnya Jibril alaihis salam selalu menemui Nabi shallallahualaihi wa salllam untuk membacakan Al Qur'an baginya." (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu). Dan pada diri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ada teladan yang
baik bagi kita.
6. Jagalah lisanmu dari berdusta, menggunjing, mengadu domba, mengolok-olok serta perkataan mengada-ada. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda : "Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum." (HR. Al Bukhari)
7. Hendaknya puasa tidak membuatmu keluar dari kebiasaan. Misalnya cepat marah dan emosi hanya karena sebab yang sepele, dengan dalih bahwa engkau sedang puasa. Sebaliknya, mestinya puasa membuat jiwamu tenang, tidak emosional. Dan jika anda diuji dengan seorang yang jahil atau pengumpat, ia jangan anda hadapi dengan perbuatan serupa. Nasehatilah dia dan tolaklah dengan cara yang lebih baik. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Puasa adalah perisai, bila suatu hari seseorang dari kamu berpuasa, hendaknya ia tidak berkata buruk dan berteriak-teriak. Bila seseorang menghina atau mencacinya, hendaknya ia berkata: Sesungguhnya aku sedang berpuasa". (HR. Al Bukhari, Muslim dan para penulis kitab Sunan). Ucapan itu dimaksudkan agar ia menahan diri dan tidak melayani orang yang mengumpatnya. Disamping itu, juga mengingatkan agar ia menolak melakukan penghinaan dan caci-maki.
8. Hendaknya anda selesai dari puasa dengan membawa takwa kepada Allah, takut dan bersyukur kepada-Nya, serta senantiasa istiqamah dalam agama-Nya. Hasil yang baik itu hendaknya mengiringi anda sepanjang tahun. Dan buah paling utama dari puasa adalah takwa, sebab Allah berfirman: "Agar kamu bertakwa" (Al Baqarah: 183).
9. Jagalah dirimu dari berbagai syahwat (keinginan), bahkan meskipun halal bagimu. Hal itu agar tujuan puasa tercapai, dan mematahkan nafsu dari keinginan. Jabir bin Abdillah Radhiyallahu 'Anhu berkata: "Jika kamu berpuasa, hendaknya berpuasa pula pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu dari dusta dan dosa-dosa, tinggalkan menyakiti tetangga, dan hendaknya kamu senantiasa bersikap tenang pada hari kamu berpuasa, jangan pula kamu jadikan hari berbukamu sama dengan hari kamu berpuasa."
10. Hendaknya makananmu dari yang halal. Jika kamu menahan diri dari yang haram pada selain bulan Ramadhan maka pada bulan Ramadhan lebih utama. Dan tidak ada gunanya engkau berpuasa dari yang halal, tetapi kamu berbuka dengan yang haram.
11. Perbanyaklah bersedekah dan berbuat kebajikan. Dan hendaknya kamu lebih baik dan lebih banyak berbuat kebajikan kepada keluargamu dibanding pada selain bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan ketika di bulan Ramadhan.
12. Ucapkanlah Basmallah ketika kamu berbuka seraya berdo'a: "Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa dan atas rezki-Mu aku berbuka. Ya Allah terimalah daripadaku, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui"
Wallahu'alam bishawab...
-Ibnu Taimiyyah-
1. Makanlah sahur, sehingga membantu kekuatan fisikmu selama berpuasa. Rasulullah shallallahu alaihi wassallam bersabda: "Makan sahurlah kalian, sesungguhnya di dalam sahur itu terdapat berkah." (HR. Bukhari dan muslim). "Bantulah (kekuatan fisikmu) untuk berpuasa di siang hari dengan makan sahur, dan untuk shalat malam dengan tidur siang." (HR. Ibnu Khuzaimah)
2. Akan lebih utama jika makan sahur itu diakhirkan waktunya, sehingga mengurangi rasa lapar dan haus. Hanya saja harus hati-hati untuk itu anda hendaknya telah berhenti dari makan dan minum beberapamenit sebelum terbit fajar, agar anda tidak ragu-ragu.
3. Segeralah berbuka jika matahari benar-benar telah tenggelam. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : "Manusia senantiasa dalam kebaikan, selama mereka menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur" (HR. Al Bukhari, Muslim dan At Tirmidzi)
4. Usahakan mandi dari hadats besar sebelum terbit fajar, agar bisa melakukan ibadah dalam keadaan suci.
5. Manfaatkan bulan Ramadhan dengan sesuatu yang terbaik yang pernah diturunkan di dalamnya, yakni membaca Al Quran. "Sesungguhnya Jibril alaihis salam selalu menemui Nabi shallallahualaihi wa salllam untuk membacakan Al Qur'an baginya." (HR. Al Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu). Dan pada diri Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ada teladan yang
baik bagi kita.
6. Jagalah lisanmu dari berdusta, menggunjing, mengadu domba, mengolok-olok serta perkataan mengada-ada. Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda : "Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum." (HR. Al Bukhari)
7. Hendaknya puasa tidak membuatmu keluar dari kebiasaan. Misalnya cepat marah dan emosi hanya karena sebab yang sepele, dengan dalih bahwa engkau sedang puasa. Sebaliknya, mestinya puasa membuat jiwamu tenang, tidak emosional. Dan jika anda diuji dengan seorang yang jahil atau pengumpat, ia jangan anda hadapi dengan perbuatan serupa. Nasehatilah dia dan tolaklah dengan cara yang lebih baik. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Puasa adalah perisai, bila suatu hari seseorang dari kamu berpuasa, hendaknya ia tidak berkata buruk dan berteriak-teriak. Bila seseorang menghina atau mencacinya, hendaknya ia berkata: Sesungguhnya aku sedang berpuasa". (HR. Al Bukhari, Muslim dan para penulis kitab Sunan). Ucapan itu dimaksudkan agar ia menahan diri dan tidak melayani orang yang mengumpatnya. Disamping itu, juga mengingatkan agar ia menolak melakukan penghinaan dan caci-maki.
8. Hendaknya anda selesai dari puasa dengan membawa takwa kepada Allah, takut dan bersyukur kepada-Nya, serta senantiasa istiqamah dalam agama-Nya. Hasil yang baik itu hendaknya mengiringi anda sepanjang tahun. Dan buah paling utama dari puasa adalah takwa, sebab Allah berfirman: "Agar kamu bertakwa" (Al Baqarah: 183).
9. Jagalah dirimu dari berbagai syahwat (keinginan), bahkan meskipun halal bagimu. Hal itu agar tujuan puasa tercapai, dan mematahkan nafsu dari keinginan. Jabir bin Abdillah Radhiyallahu 'Anhu berkata: "Jika kamu berpuasa, hendaknya berpuasa pula pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu dari dusta dan dosa-dosa, tinggalkan menyakiti tetangga, dan hendaknya kamu senantiasa bersikap tenang pada hari kamu berpuasa, jangan pula kamu jadikan hari berbukamu sama dengan hari kamu berpuasa."
10. Hendaknya makananmu dari yang halal. Jika kamu menahan diri dari yang haram pada selain bulan Ramadhan maka pada bulan Ramadhan lebih utama. Dan tidak ada gunanya engkau berpuasa dari yang halal, tetapi kamu berbuka dengan yang haram.
11. Perbanyaklah bersedekah dan berbuat kebajikan. Dan hendaknya kamu lebih baik dan lebih banyak berbuat kebajikan kepada keluargamu dibanding pada selain bulan Ramadhan. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan ketika di bulan Ramadhan.
12. Ucapkanlah Basmallah ketika kamu berbuka seraya berdo'a: "Ya Allah, karena-Mu aku berpuasa dan atas rezki-Mu aku berbuka. Ya Allah terimalah daripadaku, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui"
Wallahu'alam bishawab...
-Ibnu Taimiyyah-
Saat-Saat Syaithan Menggoda Manusia
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saudara saudariku yang kucintai. Bahasan kita kali ini adalah, saat-saat kapan syaithan menggoda kita. Ini wajib kita ketahui, sehingga kita waspada saat-saat kapan syaithan menggoda kita. Memang, setiap detik, setiap kesempatan, dimana, kapan dan bagaimana pun ia terus menggoda kita. Karena ia musuh bebuyutan kita. Tetapi waspadailah hal-hal yang disampaikan oleh Rasulullah SAW tentang saat-saat mereka yang sangat kuat menggoda kita.
Pertama, ketika matahari terbit. Yang kedua, ketika matahari tenggelam. Jadi dimulai waktu fajar, ia sangat kuat menggoda kita, agar kita tidak shalat subuh, tidak shalat fajar, atau menunda-nunda waktu shalat fajar itu. Atau dibuatnya kita malas shalat di masjid, sehingga senang shalat di rumah.
Kemudian waktu matahari tenggelam, waktu maghrib. Karena itu Rasulullah SAW melarang anak-anak kita keluar, berlari-lari ke luar rumah. Rasulullah menganjurkan untuk menutup jendela dan pintu di waktu maghrib itu, kecuali hamba-hamba Allah yang memakmurkan rumah Allah, musholla, masjid.
Kemudian yang ketiga, ingat, syaithan menggoda kita sebelum kita tidur, saat kita tidur, dan begitu kita bangun dari tidur. Karena itulah Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita sebelum tidur sebaiknya kita dalam keadaan berwudhu. Bahkan disunnahkan sebelum tidur kita shalat witir, nanti begitu bangun bertahajud tidak perlu witir lagi. Itulah hamba Allah yang berhati-hati, sebagaimana kata sabda Rasulullah SAW.
Kemudian saat tidur itu pun digoda juga oleh syaithan, sehingga kita berhayal bermimpi yang buruk-buruk. Karena itu Rasulullah bersabda, mimpi buruk bagian dari syaithan. Sebelum tidur sebaiknya setelah berwudhu kita berdoa, membaca Al Fatihah, ayat kursi, Al Ikhlash tiga kali, Al Falaq dan An Nas, tiupkan ke tangan kita, lalu usapkan ke seluruh tubuh kita. Demikian Rasulullah mengajarkan kepada kita.
Bismika Allahumma ahya wabismika amuut. Kemudian begitu bangun segera berdoa, Alhamdulillaahilladzi ahyana ba'da ma amatana wailaihinnusyur. Maka doa sebelum tidur dan sesudah tidur ini membuat syaithan tidak bisa menggoda hamba Allah itu.
Kemudian, sebelum dan sesudah makan. Subhanallah, karena itu waspadalah. syaithan datang menggoda kita saat-saat kita mau makan. Setiap kali kita berdoa membaca bismillah sebelum makan, maka syaithan tidak akan bisa ikut makan bersama kita. Kemudian demikian pula selesai makan kita berdoa kepada Allah SWT.
Lalu, waktu masuk ke rumah. Rasulullah SAW bersabda, siapa yang masuk ke dalam rumahnya, lalu dia membaca bismillahirrahmaanirrahim, maka syaithan tidak dapat masuk ke rumah hamba Allah itu. Tapi sebaliknya jika ia masuk ke rumah tidak membaca doa bismillahirrahmaanirrahim, maka syaithan akan masuk bersama orang itu di dalam rumah itu.
Subhanallah. Ini ilmu dari Rasulullah SAW.
Oleh. Ustadz Muhammad Arifin Ilham
Pertama, ketika matahari terbit. Yang kedua, ketika matahari tenggelam. Jadi dimulai waktu fajar, ia sangat kuat menggoda kita, agar kita tidak shalat subuh, tidak shalat fajar, atau menunda-nunda waktu shalat fajar itu. Atau dibuatnya kita malas shalat di masjid, sehingga senang shalat di rumah.
Kemudian waktu matahari tenggelam, waktu maghrib. Karena itu Rasulullah SAW melarang anak-anak kita keluar, berlari-lari ke luar rumah. Rasulullah menganjurkan untuk menutup jendela dan pintu di waktu maghrib itu, kecuali hamba-hamba Allah yang memakmurkan rumah Allah, musholla, masjid.
Kemudian yang ketiga, ingat, syaithan menggoda kita sebelum kita tidur, saat kita tidur, dan begitu kita bangun dari tidur. Karena itulah Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita sebelum tidur sebaiknya kita dalam keadaan berwudhu. Bahkan disunnahkan sebelum tidur kita shalat witir, nanti begitu bangun bertahajud tidak perlu witir lagi. Itulah hamba Allah yang berhati-hati, sebagaimana kata sabda Rasulullah SAW.
Kemudian saat tidur itu pun digoda juga oleh syaithan, sehingga kita berhayal bermimpi yang buruk-buruk. Karena itu Rasulullah bersabda, mimpi buruk bagian dari syaithan. Sebelum tidur sebaiknya setelah berwudhu kita berdoa, membaca Al Fatihah, ayat kursi, Al Ikhlash tiga kali, Al Falaq dan An Nas, tiupkan ke tangan kita, lalu usapkan ke seluruh tubuh kita. Demikian Rasulullah mengajarkan kepada kita.
Bismika Allahumma ahya wabismika amuut. Kemudian begitu bangun segera berdoa, Alhamdulillaahilladzi ahyana ba'da ma amatana wailaihinnusyur. Maka doa sebelum tidur dan sesudah tidur ini membuat syaithan tidak bisa menggoda hamba Allah itu.
Kemudian, sebelum dan sesudah makan. Subhanallah, karena itu waspadalah. syaithan datang menggoda kita saat-saat kita mau makan. Setiap kali kita berdoa membaca bismillah sebelum makan, maka syaithan tidak akan bisa ikut makan bersama kita. Kemudian demikian pula selesai makan kita berdoa kepada Allah SWT.
Lalu, waktu masuk ke rumah. Rasulullah SAW bersabda, siapa yang masuk ke dalam rumahnya, lalu dia membaca bismillahirrahmaanirrahim, maka syaithan tidak dapat masuk ke rumah hamba Allah itu. Tapi sebaliknya jika ia masuk ke rumah tidak membaca doa bismillahirrahmaanirrahim, maka syaithan akan masuk bersama orang itu di dalam rumah itu.
Subhanallah. Ini ilmu dari Rasulullah SAW.
Oleh. Ustadz Muhammad Arifin Ilham
PERTARUNGAN HATI VS SYAWAT......
Seseorang bisa saja berimajinasi, menduga-duga, atau menyangka sesuatu yang sejatinya teramat nyata (tidak perlu diragukan atau diduga-duga). Tindakan yang didasari oleh konstruksi mental yang benar-benar tidak nyata terhadap sesuatu yang sejatinya nyata, selalu dinilai sia-sia, dan pada peristiwa tertentu, terutama yang berhubungan dengan masalah fundamental manusia, dapat membahayakan martabat kemanusiaan itu sendiri.
Misal, seseorang berimajinasi tentang eksistensinya. Dia membayangkan bahwa dirinya, secara individu, serba mampu dalam merealisasikan semua keinginannya. Padahal realitas sejatinya, sebagai makhluk ciptaan Allah, manusia serba terbatas dan karena itu ia tidak punya kemampuan itu. Faktanya ia tidak mampu menyelesaikan semua yang menjadi keinginannya, apa lagi keinginan-keinginan orang banyak yang begitu kompleks. Seseorang yang menganggap dirinya mampu merealisasikan semua keinginannya jelas dapat membahayakan martabat kemanusiaannya dikarenakan selain mustahil juga bisa mengobarkan kesombongan yang bisa menjerumuskannya ke dalam kenistaan.
Pada umumnya hasil sebuah proses imajinasi atau mengira-ngira terhadap realitas dapat menumbuhkan pikiran-pikiran yang salah dikarenakan bertentangan dengan kenyataan itu sendiri. Di sisi lain, tindakan menduga-duga dibangun di atas dasar prasangka atau kesangsian, bukan atas dasar pengetahuan. Pertanyaan, tepatnya teguran, salah seorang pemilik kebun kepada pemilik kebun yang lain seperti dikisahkan dalam al-Qur`an tentang dua pemilik kebun cukup menggambarkan tentang kesalahan seseorang dalam berimajinasi tentang dirinya yang tidak berdasarkan pada realitas sejati bahwa semua yang kita miliki, termasuk diri kita sendiri, sepenuhnya dalam genggaman Allah Swt. “Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu "maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan.” (QS, al-Kahfi [18]: 39).
Oleh karena itu orang yang menganggap dirinya memiliki kemampuaan untuk merealisasikan semua keinginannya adalah refleksi dari khayalan yang mengendap di dalam batinnya. Khayalan seperti itu merupakan salah satu wujud kesangsian dan ketidakyakinan tentang kebenaran yang sejati.
Sebagian keraguan terhadap sesuatu sering ditampilkan dalam ungkapan yang bernada mempertanyakan (kebenaran) sebuah gagasan yang mutlak pasti dan benar. Sedangkan sangsi atau kesangsian adalah situasi psikologis manusia yang menggambarkan ketidakmampuan untuk mengambil salah satu pilihan (keputusan) untuk menerima atau menolak di antara dua hal; antara segala hal yang menyenangkan atau yang tidak menyenangkan, antara pengharapan dan kebingungan (kekhawatiran), antara baik dan buruk.
Dimensi kesangsian itu sendiri bisa merentang pada diri seseorang dari ketidakpercayaan total dan penuh pada segala sesuatu, hingga sebuah keraguan tentatif dalam mencapai kepastian. Apa pun tingkatannya, kesangsian dan keraguan dapat membuat batin dan pikiran seseorang tidak tenang dan memunculkan rasa khawatir yang menyebabkan sang diri berada dalama ambang situasi yang amat mencemaskan.
Al-Qur`an menggambarkan situasi psikologis orang yang ragu tentang keesaan dan kekuasaan Allah (syirik) sebagai situasi yang sangat mencemaskkan. “Dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, Maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (QS, al-Hajj [22]: 31). Adalah termasuk perbuatan tercela jika seseorang kemudian melembagakan kesangsian dan keraguan di dalam dirinya.
Kenyataannya, dalam kehidupan ini ada dua realitas yang sama sekali berbeda. Yaitu realitas Allah, Tuhan Pencipta alam semesta Yang Maha Esa, dan realitas alam ciptaan-Nya yang serba bergantung kepada Sang Pencipta. Dalam kajian tasawuf keesaan Allah Swt tidak hanya meniscayakan transendensi tetapi juga imanensi. Dia melampaui segala kategori pemikiran manusia karena Dia “Maha Suci dari sifat-sifat yang mereka berikan” (QS, al-An’am [6]: 100) dan “Tiap-tiap sesuatu pasti binasa kecuali Allah” (QS, al-Qashash [28]: 88).
Kesaksian yang pertama dalam dua kesaksian kita (syahadatain) adalah kalimat la ilaha illa Allah sejatinya refleksi pengetahuan seseorang terhadap kedua realitas tersebut. Salah satu muatan pengertiannya adalah tidak ada Pelindung (Wali) kecuali Allah. Dia adalah satu-satunya Pelindung bagi seluruh makhluk-Nya. Pengertian ini, dalam satu sisi meniscayakan ketidakberdayaan segala sesuatu di hadapan kekuasaan-Nya dan di sisi lain adalah sebuah pernyataan bahwa semua eksistensi ciptaan-Nya bersifat fana. Sedangkan kesaksian adalah derajat tertinggi pengetahuan seseorang terhadap satu realitas.
Atas dasar itu, kesangsian pada Allah Swt sebagai satu-satunya Pelindung utama adalah cermin rendahnya derajat probabilitas keyakinan dikarenakan kedangkalannya terhadap marifatullah. Allah Swt secara eksplisit menyatakan Dirinya sebagai Pelindung dan penolong makhluk-Nya. Selanjutnya Ia menyifati Diri-Nya dengan al-Waliy (Maha Pelindung). Dengan sifat-Nya itu Ia melindungi seluruh makhluk-Nya secara sempurna dengan cara melengkapi dengan hukum-hukum keseimbangan sehingga semua makhluk-Nya dapat berfungsi dengan sangat harmonis yang menjadikan manusia merasakan kenyamanan di dalamnya.
Sejatinya Allah Swt tidah hanya melindungi manusia di dunia ini dengan hukum-hukum-Nya yang pasti tetapi juga melindunginya dalam kehidupan di akhiratnya dengan agama-Nya. Rasulullah Saw dalam salah satu doa yang diajarkannya menyebut bahwa agama (al-din) adalah benteng pelindung semua urusan. Hanya orang yang berimanlah yang akan dapat memperoleh kedua perlindungan Allah Swt. “Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." (QS, al-Baqarah [2]:257).
Konsekuensi logis dari keyakinan seseorang kepada Allah sebagai Pelindung satu-satunya, adalah kesempurnaan dalam bersandar kepada-Nya bahwa Dia-lah yang paling sempurna penjagaannya dari segala sesuatu. Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata, "Meminta perlindungan atau yang diistilahkan dengan isti'adzah adalah menyandarkan diri kepada Allah Swt dan mengikatkan diri kepada-Nya dalam hal menjauhkan kejelekan/kejahatan dan para pelakunya.". "Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan makhlukNya dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki." (QS Al Falaq: 1-5).
Dalam kajian psikologi Islam dikenal istilah nafsu ammarah (nafsu tirani). Istilah ammarah sendiri secara literal dimaknai sebagai perintah atau kebiasaan yang berulang-ulang. Di kalangan sufi nafu ammarah diposisikan sebagai stasiun jiwa yang terendah. “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (QS, Yusuf [12]: 53)
Pada umumnya orang yang berada pada posisi kejiwaan terendah seperti itu akan menjadi budak-budak kesenangan nafsu syahwat. Ia akan melakukan apa pun demi kepuasan nafsu yang menyebabkan dirinya didominasi oleh ketergantungan yang tidak terkontrol. Musykilnya, orang yang telah terdominasi oleh hawa nafsunya selalu menolak untuk memahami bahwa sesungguhnya ia memiliki persoalan. Oleh sebab itu praktis ia benar-benar menjadi orang yang diatur oleh nafsu tiraninya.
Dengan demikian, di dalam diri setiap manusia menyimpan potensi laten keburukan yang oleh Ibnu Taimiyah dilukiskan sebagai sumber keburukan serta tidak berdiri sendiri. Menurutnya, hawa nafsu tidak berdiri sendiri dalam mendorong seseorang untuk melakukan keburukan kecuali disertai dengan kebodohan. Sebab jika ia mengetahui serta menyadarinya sesuatu itu berbahaya dan berdosa, tentu ia akan menolak untuk melakukannya.
Abu Utsman al-Naisaburi, seperti dikutip oleh Ibnu Taimiyah dalam Tazkiyyatun Nafs, mengatakan, “Barangsiapa yang menghidupkan sunnah di dalam dirinya, yaitu dalam ucapan dan perbuatannya, ia akan mampu berkata-kata penuh hikmah. Barangsiapa yang menghidupkan hawa nafsu di dalam dirinya, baik dalam ucapan maupun dalam perbuatannya, maka kata-katanya akan sarat dengan kebid’ahan.”
Atas dasar itulah perlunya pengetahuan yang cukup terhadap hakikat manusia agar sang diri tidak terjerumus ke dalam kenistaan. Meragukan nafsu sebagai potensi yang mengandung bahaya laten bagi kemajuan spiritual adalah cermin kedangkalan pengetahuannya terhadap dirinya sendiri. “Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, Maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi.” (QS, al-Ma`idah [5]: 30). “Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya'qub berkata: "Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; Maka kesabaran yang baik Itulah (kesabaranku dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan." (QS, Yusuf [12]: 18)
Akan tetapi kenyataan selalu menunjukkan, tidak sedikit orang yang tidak memahami hakikat nafsu yang ada pada dirinya. Bahkan di antara mereka sampai pada tingkat menuruti apa saja kemauannya yang menyebabkan berjuta-juta manusia dalam sepanjang sejarahnya terjerumus ke dalam kenistaan. Semua itu, sekali lagi, cermin kedangkalan pengetahuan seseorang tentang dirinya. “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, Maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (QS, al-Nisa [4]: 79)
Ibnu Qayyim dalam Fawa`id al-Fawa`id mengingatkan bahaya nafsu yang diperturutkan terhadap kehidupan. “Menahan nafsu lebih mudah daripada menahan konsekuensi yang diakibatkan oleh hawa nafsu yang diperturutkan. Antara lain, rasa sakit, penderitaan, terputusnya nikmat yang sempurna, dan hilangnya waktu yang menyebabkan kerugian dan penyesalan. Dari sisi materi, dapat mengakibatkan lenyapnya harta benda. Selain itu, memperturutkan hawa nasu dapat merugikan diri sendiri dengan sebab hilangnya nama baik, kewibawaan, dan kekayaan, tertutupnya pintu kebaikan, dilanda kesedihan, duka cita, dan penderitaan yang tidak sebanding dengan kenikmatan syahwati yang diteguknya. Lebih dari itu akan melupakan ilmu yang mengingatnya lebih nikmat dari mengumbar hawa nafsu, membahagiakan musuh, menyengsarakan wali Allah, memutus jalan nikmat, dan mentahtakan aib yang sukar untuk dihilangkan.”
Di sisi lain, orang yang suka menurutkan hawa nafsu hak keteladanan dirinya sebagai manusia menjadi lenyap ditelan implikasi-implikasinya. “…Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS, al-Kahfi [18]: 28).
Selanjutnya Ibnu Hazm mengingatkan bahwa jika nafsu syahwat berhasil mengalahkan akal, ia akan diselimuti awan kegelapan. “Hati menjadi buta, dan ia akan setia mengikuti jalan kemungkaran, dan akhirnya terjatuh dalam jurang kehinaan.” “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya. Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya.“(QS al-Jaatsiyah [45]: 23)
AL-Harits al-Muhasibi melukiskan nafsu sebagai musuh yang sukar untuk diperangi. “Kala Anda menyadari akhirat sebagai tempat kembali, ia justru mengacaukan ingatan Anda dengan cara membisikkan pikiran mengenai dunia. Jika Anda coba melawannya dengan akal sehat, ia semakin gencar melancarkan bisikan hingga Anda tergerak untuk memikirkannya sepanjang salat. Seandainya seorang musuh terus-menerus meneror, Anda pasti murka, naik pitam, bahkan mungkin bergegas untuk membunuhnya. Akan tetapi tidak bagi musuh yang satu ini. Sebab musuh ini tidak bisa Anda perangi. Apalagi membunuhnya. Anda tidak akan bisa menghindari dan membinasakannya. Oleh sebab ia adalah musuh abadi yang tak mungkin dihindari, maka tidak aneh kalau memeranginya lebih sukar daripada memerangi orang kafir.”
Allah Swt sebagai satu-satunya Pelindung dan nafsu sebagai potensi yang mengandung bahaya laten terhadap kemanusiaan merupakan kenyataan yang tidak ada kesangsian dan keraguan di dalamnya. Orang yang sangsi terhadap keduanya dapat membahayakan terhadap perjalanan hidupnya. Oleh sebab itu langkah tepat yang harus diambil oleh seseorang yang tengahh dilanda keraguan ialah meninggalkan keraguannya dengan cara meningkatkan pengetahuan. Tentu saja pengetahuan yang diperlukan di sini bukan hanya pengetahuan lisan melainkan juga pengetahuan hati, pengetahuan yang benar-benar berharga, seperti dinyatakan Rasulullah Saw.
Agar seseorang terhindar dari keraguan atau kesangsian, perlu melengkapi dirinya dengan, menurut istilah sufi, dua pengetahuan: pengetahuan lahiriah dan pengetahuan batiniah. Menurut Robert Frager dalam bukunya Heart, Self, & Soul: The Sufi Psychology of Growth, Balance and Harmony, pengetahuan lahiriah itu mencakup informasi yang kita butuhkan untuk bertahan dalam hidup sedangkan pengetahuan batiniah adalah pemahaman terhadap realitas yang harus menyertai tindakan luar agar mampu memberinya makna dan kehidupan.
Secara ekspilisit Rasulullah Saw memerintahkan ummatnya agar tidak terjebak dalam ruang kesangsian dan karenanya harus meninggalkan sesuatu yang meragukan. Dari Abu Muhammad Al Hasan bin Ali bin Abu Thalib, dia berkata, ”Aku telah hafal (sabda) dari Rasulullah Saw, “Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu.” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i). Wallahu A’lam
oleh Ustadz Abu Ridha
Misal, seseorang berimajinasi tentang eksistensinya. Dia membayangkan bahwa dirinya, secara individu, serba mampu dalam merealisasikan semua keinginannya. Padahal realitas sejatinya, sebagai makhluk ciptaan Allah, manusia serba terbatas dan karena itu ia tidak punya kemampuan itu. Faktanya ia tidak mampu menyelesaikan semua yang menjadi keinginannya, apa lagi keinginan-keinginan orang banyak yang begitu kompleks. Seseorang yang menganggap dirinya mampu merealisasikan semua keinginannya jelas dapat membahayakan martabat kemanusiaannya dikarenakan selain mustahil juga bisa mengobarkan kesombongan yang bisa menjerumuskannya ke dalam kenistaan.
Pada umumnya hasil sebuah proses imajinasi atau mengira-ngira terhadap realitas dapat menumbuhkan pikiran-pikiran yang salah dikarenakan bertentangan dengan kenyataan itu sendiri. Di sisi lain, tindakan menduga-duga dibangun di atas dasar prasangka atau kesangsian, bukan atas dasar pengetahuan. Pertanyaan, tepatnya teguran, salah seorang pemilik kebun kepada pemilik kebun yang lain seperti dikisahkan dalam al-Qur`an tentang dua pemilik kebun cukup menggambarkan tentang kesalahan seseorang dalam berimajinasi tentang dirinya yang tidak berdasarkan pada realitas sejati bahwa semua yang kita miliki, termasuk diri kita sendiri, sepenuhnya dalam genggaman Allah Swt. “Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu "maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan.” (QS, al-Kahfi [18]: 39).
Oleh karena itu orang yang menganggap dirinya memiliki kemampuaan untuk merealisasikan semua keinginannya adalah refleksi dari khayalan yang mengendap di dalam batinnya. Khayalan seperti itu merupakan salah satu wujud kesangsian dan ketidakyakinan tentang kebenaran yang sejati.
Sebagian keraguan terhadap sesuatu sering ditampilkan dalam ungkapan yang bernada mempertanyakan (kebenaran) sebuah gagasan yang mutlak pasti dan benar. Sedangkan sangsi atau kesangsian adalah situasi psikologis manusia yang menggambarkan ketidakmampuan untuk mengambil salah satu pilihan (keputusan) untuk menerima atau menolak di antara dua hal; antara segala hal yang menyenangkan atau yang tidak menyenangkan, antara pengharapan dan kebingungan (kekhawatiran), antara baik dan buruk.
Dimensi kesangsian itu sendiri bisa merentang pada diri seseorang dari ketidakpercayaan total dan penuh pada segala sesuatu, hingga sebuah keraguan tentatif dalam mencapai kepastian. Apa pun tingkatannya, kesangsian dan keraguan dapat membuat batin dan pikiran seseorang tidak tenang dan memunculkan rasa khawatir yang menyebabkan sang diri berada dalama ambang situasi yang amat mencemaskan.
Al-Qur`an menggambarkan situasi psikologis orang yang ragu tentang keesaan dan kekuasaan Allah (syirik) sebagai situasi yang sangat mencemaskkan. “Dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, Maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” (QS, al-Hajj [22]: 31). Adalah termasuk perbuatan tercela jika seseorang kemudian melembagakan kesangsian dan keraguan di dalam dirinya.
Kenyataannya, dalam kehidupan ini ada dua realitas yang sama sekali berbeda. Yaitu realitas Allah, Tuhan Pencipta alam semesta Yang Maha Esa, dan realitas alam ciptaan-Nya yang serba bergantung kepada Sang Pencipta. Dalam kajian tasawuf keesaan Allah Swt tidak hanya meniscayakan transendensi tetapi juga imanensi. Dia melampaui segala kategori pemikiran manusia karena Dia “Maha Suci dari sifat-sifat yang mereka berikan” (QS, al-An’am [6]: 100) dan “Tiap-tiap sesuatu pasti binasa kecuali Allah” (QS, al-Qashash [28]: 88).
Kesaksian yang pertama dalam dua kesaksian kita (syahadatain) adalah kalimat la ilaha illa Allah sejatinya refleksi pengetahuan seseorang terhadap kedua realitas tersebut. Salah satu muatan pengertiannya adalah tidak ada Pelindung (Wali) kecuali Allah. Dia adalah satu-satunya Pelindung bagi seluruh makhluk-Nya. Pengertian ini, dalam satu sisi meniscayakan ketidakberdayaan segala sesuatu di hadapan kekuasaan-Nya dan di sisi lain adalah sebuah pernyataan bahwa semua eksistensi ciptaan-Nya bersifat fana. Sedangkan kesaksian adalah derajat tertinggi pengetahuan seseorang terhadap satu realitas.
Atas dasar itu, kesangsian pada Allah Swt sebagai satu-satunya Pelindung utama adalah cermin rendahnya derajat probabilitas keyakinan dikarenakan kedangkalannya terhadap marifatullah. Allah Swt secara eksplisit menyatakan Dirinya sebagai Pelindung dan penolong makhluk-Nya. Selanjutnya Ia menyifati Diri-Nya dengan al-Waliy (Maha Pelindung). Dengan sifat-Nya itu Ia melindungi seluruh makhluk-Nya secara sempurna dengan cara melengkapi dengan hukum-hukum keseimbangan sehingga semua makhluk-Nya dapat berfungsi dengan sangat harmonis yang menjadikan manusia merasakan kenyamanan di dalamnya.
Sejatinya Allah Swt tidah hanya melindungi manusia di dunia ini dengan hukum-hukum-Nya yang pasti tetapi juga melindunginya dalam kehidupan di akhiratnya dengan agama-Nya. Rasulullah Saw dalam salah satu doa yang diajarkannya menyebut bahwa agama (al-din) adalah benteng pelindung semua urusan. Hanya orang yang berimanlah yang akan dapat memperoleh kedua perlindungan Allah Swt. “Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." (QS, al-Baqarah [2]:257).
Konsekuensi logis dari keyakinan seseorang kepada Allah sebagai Pelindung satu-satunya, adalah kesempurnaan dalam bersandar kepada-Nya bahwa Dia-lah yang paling sempurna penjagaannya dari segala sesuatu. Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata, "Meminta perlindungan atau yang diistilahkan dengan isti'adzah adalah menyandarkan diri kepada Allah Swt dan mengikatkan diri kepada-Nya dalam hal menjauhkan kejelekan/kejahatan dan para pelakunya.". "Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh, dari kejahatan makhlukNya dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki." (QS Al Falaq: 1-5).
Dalam kajian psikologi Islam dikenal istilah nafsu ammarah (nafsu tirani). Istilah ammarah sendiri secara literal dimaknai sebagai perintah atau kebiasaan yang berulang-ulang. Di kalangan sufi nafu ammarah diposisikan sebagai stasiun jiwa yang terendah. “Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (QS, Yusuf [12]: 53)
Pada umumnya orang yang berada pada posisi kejiwaan terendah seperti itu akan menjadi budak-budak kesenangan nafsu syahwat. Ia akan melakukan apa pun demi kepuasan nafsu yang menyebabkan dirinya didominasi oleh ketergantungan yang tidak terkontrol. Musykilnya, orang yang telah terdominasi oleh hawa nafsunya selalu menolak untuk memahami bahwa sesungguhnya ia memiliki persoalan. Oleh sebab itu praktis ia benar-benar menjadi orang yang diatur oleh nafsu tiraninya.
Dengan demikian, di dalam diri setiap manusia menyimpan potensi laten keburukan yang oleh Ibnu Taimiyah dilukiskan sebagai sumber keburukan serta tidak berdiri sendiri. Menurutnya, hawa nafsu tidak berdiri sendiri dalam mendorong seseorang untuk melakukan keburukan kecuali disertai dengan kebodohan. Sebab jika ia mengetahui serta menyadarinya sesuatu itu berbahaya dan berdosa, tentu ia akan menolak untuk melakukannya.
Abu Utsman al-Naisaburi, seperti dikutip oleh Ibnu Taimiyah dalam Tazkiyyatun Nafs, mengatakan, “Barangsiapa yang menghidupkan sunnah di dalam dirinya, yaitu dalam ucapan dan perbuatannya, ia akan mampu berkata-kata penuh hikmah. Barangsiapa yang menghidupkan hawa nafsu di dalam dirinya, baik dalam ucapan maupun dalam perbuatannya, maka kata-katanya akan sarat dengan kebid’ahan.”
Atas dasar itulah perlunya pengetahuan yang cukup terhadap hakikat manusia agar sang diri tidak terjerumus ke dalam kenistaan. Meragukan nafsu sebagai potensi yang mengandung bahaya laten bagi kemajuan spiritual adalah cermin kedangkalan pengetahuannya terhadap dirinya sendiri. “Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah, Maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi.” (QS, al-Ma`idah [5]: 30). “Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya'qub berkata: "Sebenarnya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu; Maka kesabaran yang baik Itulah (kesabaranku dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan." (QS, Yusuf [12]: 18)
Akan tetapi kenyataan selalu menunjukkan, tidak sedikit orang yang tidak memahami hakikat nafsu yang ada pada dirinya. Bahkan di antara mereka sampai pada tingkat menuruti apa saja kemauannya yang menyebabkan berjuta-juta manusia dalam sepanjang sejarahnya terjerumus ke dalam kenistaan. Semua itu, sekali lagi, cermin kedangkalan pengetahuan seseorang tentang dirinya. “Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, Maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. dan cukuplah Allah menjadi saksi.” (QS, al-Nisa [4]: 79)
Ibnu Qayyim dalam Fawa`id al-Fawa`id mengingatkan bahaya nafsu yang diperturutkan terhadap kehidupan. “Menahan nafsu lebih mudah daripada menahan konsekuensi yang diakibatkan oleh hawa nafsu yang diperturutkan. Antara lain, rasa sakit, penderitaan, terputusnya nikmat yang sempurna, dan hilangnya waktu yang menyebabkan kerugian dan penyesalan. Dari sisi materi, dapat mengakibatkan lenyapnya harta benda. Selain itu, memperturutkan hawa nasu dapat merugikan diri sendiri dengan sebab hilangnya nama baik, kewibawaan, dan kekayaan, tertutupnya pintu kebaikan, dilanda kesedihan, duka cita, dan penderitaan yang tidak sebanding dengan kenikmatan syahwati yang diteguknya. Lebih dari itu akan melupakan ilmu yang mengingatnya lebih nikmat dari mengumbar hawa nafsu, membahagiakan musuh, menyengsarakan wali Allah, memutus jalan nikmat, dan mentahtakan aib yang sukar untuk dihilangkan.”
Di sisi lain, orang yang suka menurutkan hawa nafsu hak keteladanan dirinya sebagai manusia menjadi lenyap ditelan implikasi-implikasinya. “…Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (QS, al-Kahfi [18]: 28).
Selanjutnya Ibnu Hazm mengingatkan bahwa jika nafsu syahwat berhasil mengalahkan akal, ia akan diselimuti awan kegelapan. “Hati menjadi buta, dan ia akan setia mengikuti jalan kemungkaran, dan akhirnya terjatuh dalam jurang kehinaan.” “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya? Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya. Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya.“(QS al-Jaatsiyah [45]: 23)
AL-Harits al-Muhasibi melukiskan nafsu sebagai musuh yang sukar untuk diperangi. “Kala Anda menyadari akhirat sebagai tempat kembali, ia justru mengacaukan ingatan Anda dengan cara membisikkan pikiran mengenai dunia. Jika Anda coba melawannya dengan akal sehat, ia semakin gencar melancarkan bisikan hingga Anda tergerak untuk memikirkannya sepanjang salat. Seandainya seorang musuh terus-menerus meneror, Anda pasti murka, naik pitam, bahkan mungkin bergegas untuk membunuhnya. Akan tetapi tidak bagi musuh yang satu ini. Sebab musuh ini tidak bisa Anda perangi. Apalagi membunuhnya. Anda tidak akan bisa menghindari dan membinasakannya. Oleh sebab ia adalah musuh abadi yang tak mungkin dihindari, maka tidak aneh kalau memeranginya lebih sukar daripada memerangi orang kafir.”
Allah Swt sebagai satu-satunya Pelindung dan nafsu sebagai potensi yang mengandung bahaya laten terhadap kemanusiaan merupakan kenyataan yang tidak ada kesangsian dan keraguan di dalamnya. Orang yang sangsi terhadap keduanya dapat membahayakan terhadap perjalanan hidupnya. Oleh sebab itu langkah tepat yang harus diambil oleh seseorang yang tengahh dilanda keraguan ialah meninggalkan keraguannya dengan cara meningkatkan pengetahuan. Tentu saja pengetahuan yang diperlukan di sini bukan hanya pengetahuan lisan melainkan juga pengetahuan hati, pengetahuan yang benar-benar berharga, seperti dinyatakan Rasulullah Saw.
Agar seseorang terhindar dari keraguan atau kesangsian, perlu melengkapi dirinya dengan, menurut istilah sufi, dua pengetahuan: pengetahuan lahiriah dan pengetahuan batiniah. Menurut Robert Frager dalam bukunya Heart, Self, & Soul: The Sufi Psychology of Growth, Balance and Harmony, pengetahuan lahiriah itu mencakup informasi yang kita butuhkan untuk bertahan dalam hidup sedangkan pengetahuan batiniah adalah pemahaman terhadap realitas yang harus menyertai tindakan luar agar mampu memberinya makna dan kehidupan.
Secara ekspilisit Rasulullah Saw memerintahkan ummatnya agar tidak terjebak dalam ruang kesangsian dan karenanya harus meninggalkan sesuatu yang meragukan. Dari Abu Muhammad Al Hasan bin Ali bin Abu Thalib, dia berkata, ”Aku telah hafal (sabda) dari Rasulullah Saw, “Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu.” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i). Wallahu A’lam
oleh Ustadz Abu Ridha
Wednesday, 4 August 2010
Merayu Allah Melalui Tasbih, Tahmid, Tahlil dan Takbir
Allah sangat menyukai ucapan tasbih, tahmid, tahlil dan takbir yang keluar dari bibir hamba-hamba-Nya. Tasbih mengandung penafian semua kejelekan yang tidak mungkin ada pada Allah yang tidak sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya. Tahmid merupakan bentuk pujian yang sempurna kepada Allah. Rasulullah pernah bersabda : Sesungguhnya sebaik-baik doa adalah “Alhamdulillah” (HR. Tirmiddzi).
Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda :
الحمد لله تملأ الميزان,وسبحان الله والحمد لله تمللآن أو تملأ ما بين السماوات والأرض
Alhamdulillah memenuhi Mizan, dan Subhanallah serta al-hamdulillah keduanya memenuhi apa yang ada diantara langit dan bumi (HR. Muslim).
Sementara Laa Ilaaha Illa Allah adalah sebuah deklarasi bahwa tidak ada yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah. Dia adalah kalimat tauhid yang merupakan sebaik-baik dzikir kepada Allah. Kalimat ini merupakan bentuk penafian sifat-sifat uluhiyah dari makhluk dan penetapannya atas Allah karena memang Dialah Yang berhak untuk itu semua, Dialah yang pantas untuk menyandangnya, Dialah yang memiliki itu semua.
Kewajiban kita hendaknya senantiasa menggemuruhkan kalimat-kalimat agung itu dalam detak jantung kita, mengkristalkannya dalam relung hati kita, melantunkannya lewat bibir-bibir kita, memekarkannya dalam perilaku kita semua dan menancapkannya dalam sujud-sujud kita.
Rasulullah pernah bersabda : Ucapan yang paling Allah sukai itu adalah empat : Subhanallah, al-Hamdulillah, Laa Ilaaha Illa Allah, Allahu Akbar. Tidak ada bahaya darimanapun kamu mulai (HR. Muslim).
Dalam sabdanya yang lain Rasulullah beliau mengatakan : Bagiku mengucapakan Subhanallah, al-Hamdulillah, Laa Ilaaha Illa Allah, Allahu Akbar lebih aku sukai daripada apa yang disinari mentari.
Tak ada aktivitas yang akan menenteramkan hati dan melembutkan jiwa selain senantiasa ingat dan berdzikir kepada Allah. Tak ada aktivitas yang melegakan jiwa dan menyejukkan nurani selain dzikir kepada Allah. Karena itulah Allah menyeru kepada kita agar kita senantiasa berdzikir pada-Nya.
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُواْ لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ ﴿١٥٢﴾
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat) -Ku.(Al-Baqarah : 152).
Dzikir kepada Allah adalah surga Allah di dunia. Dia indah dan penuh pesona, menakjubkan dan menentramkan. Di dalamnya ada bunga-bunga wangi yang bisa dihirup jiwa. Maka barang siapa yang tidak pernah menginjakkan kakinya di surga Allah di dunia dia tidak akan pernah menginjakkan kakinya di surga Allah di akhirat. Dzikir adalah penolong yang melenyapkan kelelahan dan keletihan jiwa dan kehampaan nurani. Dzikir adalah jalan pintas untuk meraih kebahagiaan dan merengkuh kemenangan. Dzikir adalah balsem yang senantiasa memberikan kehangatan ruhani dan sekaligus memberikan kesembuhan jiwa.
Dalam dzikir jiwa menjadi terasa dekat dengan Sangat Mahakasih, merasa teduh dalam naungan cinta-Nya, hangat dalam dekapan kasih-Nya. Para ahli dzikir akan merasa getaran ilahiyah yang mengalir dalam seluruh organ tubuhnya.
Dzikir menyingkirkan awan ketakutan menepiskan kegundahan dan menghadirkan kebahagiaan dan rasa damai. Problema hidup akan ringan terasa. Guncangan jiwa akan luluh sirna.
Dzikir adalah penerang, dzikir adalah penenang, dzikir adalah penyadar dan senjata ampuh pemusnah kesuntukan pikiran, pelenyap tumpukan duka lara. Orang yang berdzikir kepada Allah akan senantiasa bersinar jiwanya, bercahaya tingkah lakunya.
Ketenangan batin tersimpan dalam gema dzikir yang bertalu-talu, dalam denting tahmid yang mendayu-dayu. Dalam kalimat tauhid yang menggebu dan dalam tasbih yang bergelora menghangatkan jiwa.
Dzikir adalah ibadah jiwa dan lidah yang melintasi semua zaman. Ia harus hadir dalam detik-menit-jam-hari-minggu-bulan-tahun hingga kematian menjemput kita. Berdzikirlah dalam keadaan apa saja : berdiri, duduk ataupun terbaring. Kita wajib mengingat-Nya baik saat berada di daratan, di lautan, di padang pasir, di pasar-pasar, di mall-mall, di hotel-hotel bahkan di udara sekalipun. Dengan terang-terangan atau sembunyi-sembunyi, dalam gelap dan terang, di gunung-gunung dan lembah-lembah. Dzikir harus senantiasa bergema di seluruh nafas kehidupan kita.
Allah berfirman :
Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.(Al-Ahzaab : 41).
Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.(Al-A’raaf : 205).
Dzikir itu makanan jiwa yang harus menjadi konsumsi rutin keseharian kita. Tanpanya jiwa kita akan melemah, semangat kita akan mengendur, cita-cita kita hanya menjadi cita pendek dan rendah. Ada kelezatan dalam dzikir yang tidak dimiliki oleh amal-amalnya lainnya. Cicipi dan rasakanlah.
Dzikir adalah penawar racun orang berdosa, sahabat setia orang yang terputus, harta simpanan orang-orang yang bertawakkal, makanan orang-orang yang penuh yakin, hiasan orang-orang yang menyambungkan diri kepada Allah, prinsip orang-orang yang memiliki ma’rifat, hamparan orang-orang yang mendekat dan minuman segar orang-orang yang mencinta.
Dzikir adalah energi hidup seorang muslim dan turbin yang menggerakkan jiwa mereka.
Ibnu Taimiyah pernah mengatakan kepada muridnya, Ibnul Qayyim tentang dzikir ini : Ini adalah makananku, jika aku tidak makan maka habislah kekuatanku.
Hasan Al-Bashri memberikan nasehat kepada kita : Carilah kenikmatan itu dalam tiga perkara : Dalam salat, dalam dzikir, dalam membaca Al-Quran.
Dzikir akan membuka kelapangan dada kita. Dalam dzikir terdapat makna-makan sabar dan tawakkal, terkandung makna ridha dan menyerah. Hanya dengan mengingat Allah jiwa kita menjadi jernih dan pikiran kita akan menjadi bersih. Dengan dzikir kepada Allah langkah ke depan menjadi pasti.
ألا بذكرالله تطمئن القلوب
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. (Ar-Ra’d : 28).
Kegelisahan yang melanda banyak orang di zaman tak lebih karena mereka telah melalaikan dzikir. Menyedikitkan tasbih, meminilisir tahmid dan mengerdilkan takbir dalam jejak rekam kehidupan mereka. Orang menjadi rakus karena dia tidak tamak untuk berdzikir. Seseorang menjadi berlumur dosa karena dia lupa bertasbih, dia menjadi angkuh karena kalimat tauhid yang dibacanya tidak lagi menggedor kesadaran dirinya bahwa dia hanyalah seorang hamba..
Kejahatan para penguasa muncul karena mereka jarang bertabsih, pemelintiran agama hadir di kalangan ulama karena tasbih mereka mungkin mulai tak jujur. Tahmid mereka mulai mengendur.
Kecurangan pemimpin bisa saja karena malam mereka tidak pernah berdenyut dengan tasbih dan tahmid, fajar mereka tidak pernah hidup dengan kalimat tauhid.
Maka jadilah mata hati mereka semakin legam, jiwa mereka semakin gosong, pandangan nurani mereka menjadi pendek.
Padahal ada waktu untuk merayu Allah di saat fajar akan menjelang, di saat manusia-manusia yang tidak bersemangat pada bergelimpangan pulas menikmati malam. Saat itu ucapan cinta kepada Sang Maha Pencinta harus diungkap. Karena cinta kita akan menarik cinta-Nya, rayuan kita akan membangkitkan cinta-Nya.
Hidup ini harus kita maknai melalui tasbih, tahlil dan tahmid serta takbir kita yang tiada henti. Sampai mati.
Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda :
الحمد لله تملأ الميزان,وسبحان الله والحمد لله تمللآن أو تملأ ما بين السماوات والأرض
Alhamdulillah memenuhi Mizan, dan Subhanallah serta al-hamdulillah keduanya memenuhi apa yang ada diantara langit dan bumi (HR. Muslim).
Sementara Laa Ilaaha Illa Allah adalah sebuah deklarasi bahwa tidak ada yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah. Dia adalah kalimat tauhid yang merupakan sebaik-baik dzikir kepada Allah. Kalimat ini merupakan bentuk penafian sifat-sifat uluhiyah dari makhluk dan penetapannya atas Allah karena memang Dialah Yang berhak untuk itu semua, Dialah yang pantas untuk menyandangnya, Dialah yang memiliki itu semua.
Kewajiban kita hendaknya senantiasa menggemuruhkan kalimat-kalimat agung itu dalam detak jantung kita, mengkristalkannya dalam relung hati kita, melantunkannya lewat bibir-bibir kita, memekarkannya dalam perilaku kita semua dan menancapkannya dalam sujud-sujud kita.
Rasulullah pernah bersabda : Ucapan yang paling Allah sukai itu adalah empat : Subhanallah, al-Hamdulillah, Laa Ilaaha Illa Allah, Allahu Akbar. Tidak ada bahaya darimanapun kamu mulai (HR. Muslim).
Dalam sabdanya yang lain Rasulullah beliau mengatakan : Bagiku mengucapakan Subhanallah, al-Hamdulillah, Laa Ilaaha Illa Allah, Allahu Akbar lebih aku sukai daripada apa yang disinari mentari.
Tak ada aktivitas yang akan menenteramkan hati dan melembutkan jiwa selain senantiasa ingat dan berdzikir kepada Allah. Tak ada aktivitas yang melegakan jiwa dan menyejukkan nurani selain dzikir kepada Allah. Karena itulah Allah menyeru kepada kita agar kita senantiasa berdzikir pada-Nya.
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُواْ لِي وَلاَ تَكْفُرُونِ ﴿١٥٢﴾
Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat) -Ku.(Al-Baqarah : 152).
Dzikir kepada Allah adalah surga Allah di dunia. Dia indah dan penuh pesona, menakjubkan dan menentramkan. Di dalamnya ada bunga-bunga wangi yang bisa dihirup jiwa. Maka barang siapa yang tidak pernah menginjakkan kakinya di surga Allah di dunia dia tidak akan pernah menginjakkan kakinya di surga Allah di akhirat. Dzikir adalah penolong yang melenyapkan kelelahan dan keletihan jiwa dan kehampaan nurani. Dzikir adalah jalan pintas untuk meraih kebahagiaan dan merengkuh kemenangan. Dzikir adalah balsem yang senantiasa memberikan kehangatan ruhani dan sekaligus memberikan kesembuhan jiwa.
Dalam dzikir jiwa menjadi terasa dekat dengan Sangat Mahakasih, merasa teduh dalam naungan cinta-Nya, hangat dalam dekapan kasih-Nya. Para ahli dzikir akan merasa getaran ilahiyah yang mengalir dalam seluruh organ tubuhnya.
Dzikir menyingkirkan awan ketakutan menepiskan kegundahan dan menghadirkan kebahagiaan dan rasa damai. Problema hidup akan ringan terasa. Guncangan jiwa akan luluh sirna.
Dzikir adalah penerang, dzikir adalah penenang, dzikir adalah penyadar dan senjata ampuh pemusnah kesuntukan pikiran, pelenyap tumpukan duka lara. Orang yang berdzikir kepada Allah akan senantiasa bersinar jiwanya, bercahaya tingkah lakunya.
Ketenangan batin tersimpan dalam gema dzikir yang bertalu-talu, dalam denting tahmid yang mendayu-dayu. Dalam kalimat tauhid yang menggebu dan dalam tasbih yang bergelora menghangatkan jiwa.
Dzikir adalah ibadah jiwa dan lidah yang melintasi semua zaman. Ia harus hadir dalam detik-menit-jam-hari-minggu-bulan-tahun hingga kematian menjemput kita. Berdzikirlah dalam keadaan apa saja : berdiri, duduk ataupun terbaring. Kita wajib mengingat-Nya baik saat berada di daratan, di lautan, di padang pasir, di pasar-pasar, di mall-mall, di hotel-hotel bahkan di udara sekalipun. Dengan terang-terangan atau sembunyi-sembunyi, dalam gelap dan terang, di gunung-gunung dan lembah-lembah. Dzikir harus senantiasa bergema di seluruh nafas kehidupan kita.
Allah berfirman :
Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya.(Al-Ahzaab : 41).
Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.(Al-A’raaf : 205).
Dzikir itu makanan jiwa yang harus menjadi konsumsi rutin keseharian kita. Tanpanya jiwa kita akan melemah, semangat kita akan mengendur, cita-cita kita hanya menjadi cita pendek dan rendah. Ada kelezatan dalam dzikir yang tidak dimiliki oleh amal-amalnya lainnya. Cicipi dan rasakanlah.
Dzikir adalah penawar racun orang berdosa, sahabat setia orang yang terputus, harta simpanan orang-orang yang bertawakkal, makanan orang-orang yang penuh yakin, hiasan orang-orang yang menyambungkan diri kepada Allah, prinsip orang-orang yang memiliki ma’rifat, hamparan orang-orang yang mendekat dan minuman segar orang-orang yang mencinta.
Dzikir adalah energi hidup seorang muslim dan turbin yang menggerakkan jiwa mereka.
Ibnu Taimiyah pernah mengatakan kepada muridnya, Ibnul Qayyim tentang dzikir ini : Ini adalah makananku, jika aku tidak makan maka habislah kekuatanku.
Hasan Al-Bashri memberikan nasehat kepada kita : Carilah kenikmatan itu dalam tiga perkara : Dalam salat, dalam dzikir, dalam membaca Al-Quran.
Dzikir akan membuka kelapangan dada kita. Dalam dzikir terdapat makna-makan sabar dan tawakkal, terkandung makna ridha dan menyerah. Hanya dengan mengingat Allah jiwa kita menjadi jernih dan pikiran kita akan menjadi bersih. Dengan dzikir kepada Allah langkah ke depan menjadi pasti.
ألا بذكرالله تطمئن القلوب
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. (Ar-Ra’d : 28).
Kegelisahan yang melanda banyak orang di zaman tak lebih karena mereka telah melalaikan dzikir. Menyedikitkan tasbih, meminilisir tahmid dan mengerdilkan takbir dalam jejak rekam kehidupan mereka. Orang menjadi rakus karena dia tidak tamak untuk berdzikir. Seseorang menjadi berlumur dosa karena dia lupa bertasbih, dia menjadi angkuh karena kalimat tauhid yang dibacanya tidak lagi menggedor kesadaran dirinya bahwa dia hanyalah seorang hamba..
Kejahatan para penguasa muncul karena mereka jarang bertabsih, pemelintiran agama hadir di kalangan ulama karena tasbih mereka mungkin mulai tak jujur. Tahmid mereka mulai mengendur.
Kecurangan pemimpin bisa saja karena malam mereka tidak pernah berdenyut dengan tasbih dan tahmid, fajar mereka tidak pernah hidup dengan kalimat tauhid.
Maka jadilah mata hati mereka semakin legam, jiwa mereka semakin gosong, pandangan nurani mereka menjadi pendek.
Padahal ada waktu untuk merayu Allah di saat fajar akan menjelang, di saat manusia-manusia yang tidak bersemangat pada bergelimpangan pulas menikmati malam. Saat itu ucapan cinta kepada Sang Maha Pencinta harus diungkap. Karena cinta kita akan menarik cinta-Nya, rayuan kita akan membangkitkan cinta-Nya.
Hidup ini harus kita maknai melalui tasbih, tahlil dan tahmid serta takbir kita yang tiada henti. Sampai mati.
RAMUAN PELEBUR DOSA
Hasan al-Bashri seorang ulama terkemuka asal Basharah Irak menyaksikan seorang pemuda datang pada seorang dokter menanyakan hal berikut : Wahai dokter apakah Anda memiliki resep obat mujarab yang bisa menghapus dosa-dosa dan menyembuhkan penyakit hati?
Dokter itu menjawab : Ya!
Pemuda itu berkata : Berikan padaku resep mujarab itu!
Dokter berkata : "Ambillah sepuluh bahan pelebur dosa itu :
Ambillah akar pohon rasa fakir dan menghajatkan pada Allah bersama dengan akar kerendahan hati yang tulus dan ikhlas kepada Allah. Jadikan taubat sebagai campurannya. Lalu masukkan dalam wadah ridha atas semua ketentuan dan takdir Allah. Aduklah dengan adukan qana'ah rasa puas dengan apa yang telah Allah berikan kepada kita. Masukkan dalam kuali takwa. Tuangkan ke dalamnya air rasa malu lalu didihkanlah dengan api cinta dan masukkan dalam adonan syukur serta keringkan dengan kipasan harap lalu minumlah dengan sendok pujian (al-hamdu).
Jika engkau mampu melakukannya pastilah engkau mampu mencegah penyakit dan ujian baik di dunia maupun akhirat" pungkas dokter itu.
Banyak orang melakukan dosa dan kedurjanaan kepada Allah karena dia merasa cukup dengan kemampuan dirinya dan seakan tidak lagi membutuhkan pada apapun, termasuk pada Sang Mahakaya. Dia beranggapan bahwa dirinya mampu melakukan semua hal dengan kekuatan dan kemampuannya, dengan potensi dan energi dirinya. Dia merasa bahwa semua yang dia dapatkan adalah hasil dari kekuatan pikirannya, kemampuan ilmunya, kejernihan kalkulasinya, kematangan hitungan-hitungannya. Inilah yang terjadi pada Qarun yang angkuh dengan harta yang dimilikinya yang kemudian Allah turunkan adzab padanya dengan ditelannya dia oleh bumi yang tidak lagi suka pada kecongkakan, kesombongan dan keangkuhan yang dia pamerkan sehingga membuat bumi gerah.
Sumber dosa lainnya adalah karena orang itu ridak ridha dengan apa yang Allah tetapkan pada dirinya. Sering kali dari bibirnya keluar keluhan dan bahkan gugatan kepada Allah kepada Dia tidak memberikan yang "terbaik" menurut pandangannya, menurut persepsinya, menurut pemikirannya. Dia menyangka bahwa apa yang dia alami saat ini tidaklah tepat bagi dirinya, tidak pantas untuk dirinya, tidak layak dialaminya. Dia seakan lebih tahu dari Allah Yang Mahatahu yang mengerti semua detil perkara yang baik dan yang buruk bagi hamba-Nya. Inilah yang terjadi pada Qabil tatkala menuntut ayahnya agar dia dinikahkan dengan adik kembarnya padahal Allah telah menentukan lain untuknya.
Lambat kembali kepada Allah merupakan penyebab lain dari tidak hancurnya dosa-dosa yang kita lakukan. Terjadi pengendapan dosa karena seringnya kita menunda taubat yang seharusnya cepat kita lakukan. Padahal Allah memerintahkan kita untuk segera merapatkan diri kepada Allah setelah beberapa lama kita telah menjauhinya. Getarkan hati kita semua dengan sesal atas semua kesalahan yang kita lakukan. Mereka seakan tidak tahu bahwa Allah senantiasa menerima taubat hamba-Nya dan Allah sangat senang dengan taubat mereka.
Sebagaimana yang Allah firmankan :
ألم يعلموا أن الله هو يقبل التوبة عن عباده ويأخذ الصدقات وأن الله هو التواب الرحيم
Tidakkah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat, dan bahwasanya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang? (At-Taubah : 104).
Rasa tidak puas dengan apa yang Allah berikan pada kita merupakan penyakit kronis yang melahirkan buruk sangka kepada Allah, mendekti kehendak Allah, menyalahkan Allah. Rasa tidak puas dengan karunia Allah akan mengecilkan rasa syukur kita pada-Nya dan bahkan suatu saat akan memadamkannya. Lenyapnya rasa qana'ah atas karunia-Nya akan membuahkan ketamakan dan ketamakan akan melahirkan kezhaliman-kezhaliman. Dari kezhaliman akan memunculkan kerusakan-kerusakan yang menghancurkan tatanan kehidupan.
Jika dalam diri kita telah ada rasa kefakiran, rasa ridha dan qana'ah dan taubat maka semangat takwa kepada Allah hendaknya kita pupuk terus menerus dan kita bina dengan seksama. Sebab ketakwaan itu laksana sebuah tanaman yang jika dibina dengan sebaik-baiknya maka dia akan tumbuh subur dan indah dan jika kita telantarkan maka ketakwaan itu akan segera layu dan lesu. Ketakwaan bisa kita sirami dengan dengan rasa takut pada Allah (al-khawf min al-Jalil), mengamalkan nilai-nilai all-Quran (al-'amal bi al-Tanzil), puas dengan yang ada (al-qana'ah bi al-qalil) dan mempersiapkan diri sepenuhnya untuk perjalanan akhir : kematian ( al-isti'dad li yaum al-Rahil). Jadikan takwa terus terus tumbuh berkembang dan berkelanjutan sampai maut datang menjelang. Hendaknya kita menggenjot ketakwaan kita sampai pada puncaknya, pada titik kulminasinya.
يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam (Ali Imran : 102).
Ketakwaan kita akan semakin bermakna mana kala yang menjadi pendorongnya adalah mahabbah cinta pada Allah. Cinta pada Allah sepenuh jiwa dan hati. Cinta yang tidak lagi membuatnya berpkir untuk dan rugi dalam menjalankan perintah dan anjuran-Nya. Semangat cinta yang membakar hatinya akan senantiasa menggerakkannya untuk senantiasa dekat, merapat dan bergiat untuk merengkuh ridha dan kasih-Nya, meminum cawan rahmat-Nya dalam setiap langkah-langkah hidup dan goresan sejarahnya. Rasa cintanya yang menggelegak pada Allah akan senantiasa membuat hidup terasa hidup, langkahnya demikian pasti menuju Sang Kekasih. Cawan cintanya senantiasa tumpah ruah dengan air mata takwa, ridha qanah, taubat syukur, tawakkal dan sabar.
Bagi para pecinta yang dipikirkan bukan lagi dirinya tapi Dzat yang dicintainya dan dia larut dalam gelombang kasih-Nya, larut dalam rahmat-Nya masuk dalam dekapan kasih sayang-Nya.
Ramuan kefakiran pada Allah+taubat+ridha+qana'ah+takwa+malu+mahabbah cinta+syukur+harap (raja') dan tahmid akan membersihkan dosa kita, melelehkan bebukitan kesalahan kita.
Dan yakinlah bahwa ramuan itu selain menghapuskan dosa kita dia juga akan menambah vitalitas keimanan kita semua menambah energi keislaman kita dan memantapkan akar ihsan kita.
Selama mencoba! Pastilah kita akan merasan khasiatnya. Dengan hasil jiwa nan segar dan jiwa yang jernih. Dengan dosa yang minim setiap hari.
oleh Ustadz Samson Rahman
Dokter itu menjawab : Ya!
Pemuda itu berkata : Berikan padaku resep mujarab itu!
Dokter berkata : "Ambillah sepuluh bahan pelebur dosa itu :
Ambillah akar pohon rasa fakir dan menghajatkan pada Allah bersama dengan akar kerendahan hati yang tulus dan ikhlas kepada Allah. Jadikan taubat sebagai campurannya. Lalu masukkan dalam wadah ridha atas semua ketentuan dan takdir Allah. Aduklah dengan adukan qana'ah rasa puas dengan apa yang telah Allah berikan kepada kita. Masukkan dalam kuali takwa. Tuangkan ke dalamnya air rasa malu lalu didihkanlah dengan api cinta dan masukkan dalam adonan syukur serta keringkan dengan kipasan harap lalu minumlah dengan sendok pujian (al-hamdu).
Jika engkau mampu melakukannya pastilah engkau mampu mencegah penyakit dan ujian baik di dunia maupun akhirat" pungkas dokter itu.
Banyak orang melakukan dosa dan kedurjanaan kepada Allah karena dia merasa cukup dengan kemampuan dirinya dan seakan tidak lagi membutuhkan pada apapun, termasuk pada Sang Mahakaya. Dia beranggapan bahwa dirinya mampu melakukan semua hal dengan kekuatan dan kemampuannya, dengan potensi dan energi dirinya. Dia merasa bahwa semua yang dia dapatkan adalah hasil dari kekuatan pikirannya, kemampuan ilmunya, kejernihan kalkulasinya, kematangan hitungan-hitungannya. Inilah yang terjadi pada Qarun yang angkuh dengan harta yang dimilikinya yang kemudian Allah turunkan adzab padanya dengan ditelannya dia oleh bumi yang tidak lagi suka pada kecongkakan, kesombongan dan keangkuhan yang dia pamerkan sehingga membuat bumi gerah.
Sumber dosa lainnya adalah karena orang itu ridak ridha dengan apa yang Allah tetapkan pada dirinya. Sering kali dari bibirnya keluar keluhan dan bahkan gugatan kepada Allah kepada Dia tidak memberikan yang "terbaik" menurut pandangannya, menurut persepsinya, menurut pemikirannya. Dia menyangka bahwa apa yang dia alami saat ini tidaklah tepat bagi dirinya, tidak pantas untuk dirinya, tidak layak dialaminya. Dia seakan lebih tahu dari Allah Yang Mahatahu yang mengerti semua detil perkara yang baik dan yang buruk bagi hamba-Nya. Inilah yang terjadi pada Qabil tatkala menuntut ayahnya agar dia dinikahkan dengan adik kembarnya padahal Allah telah menentukan lain untuknya.
Lambat kembali kepada Allah merupakan penyebab lain dari tidak hancurnya dosa-dosa yang kita lakukan. Terjadi pengendapan dosa karena seringnya kita menunda taubat yang seharusnya cepat kita lakukan. Padahal Allah memerintahkan kita untuk segera merapatkan diri kepada Allah setelah beberapa lama kita telah menjauhinya. Getarkan hati kita semua dengan sesal atas semua kesalahan yang kita lakukan. Mereka seakan tidak tahu bahwa Allah senantiasa menerima taubat hamba-Nya dan Allah sangat senang dengan taubat mereka.
Sebagaimana yang Allah firmankan :
ألم يعلموا أن الله هو يقبل التوبة عن عباده ويأخذ الصدقات وأن الله هو التواب الرحيم
Tidakkah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat, dan bahwasanya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang? (At-Taubah : 104).
Rasa tidak puas dengan apa yang Allah berikan pada kita merupakan penyakit kronis yang melahirkan buruk sangka kepada Allah, mendekti kehendak Allah, menyalahkan Allah. Rasa tidak puas dengan karunia Allah akan mengecilkan rasa syukur kita pada-Nya dan bahkan suatu saat akan memadamkannya. Lenyapnya rasa qana'ah atas karunia-Nya akan membuahkan ketamakan dan ketamakan akan melahirkan kezhaliman-kezhaliman. Dari kezhaliman akan memunculkan kerusakan-kerusakan yang menghancurkan tatanan kehidupan.
Jika dalam diri kita telah ada rasa kefakiran, rasa ridha dan qana'ah dan taubat maka semangat takwa kepada Allah hendaknya kita pupuk terus menerus dan kita bina dengan seksama. Sebab ketakwaan itu laksana sebuah tanaman yang jika dibina dengan sebaik-baiknya maka dia akan tumbuh subur dan indah dan jika kita telantarkan maka ketakwaan itu akan segera layu dan lesu. Ketakwaan bisa kita sirami dengan dengan rasa takut pada Allah (al-khawf min al-Jalil), mengamalkan nilai-nilai all-Quran (al-'amal bi al-Tanzil), puas dengan yang ada (al-qana'ah bi al-qalil) dan mempersiapkan diri sepenuhnya untuk perjalanan akhir : kematian ( al-isti'dad li yaum al-Rahil). Jadikan takwa terus terus tumbuh berkembang dan berkelanjutan sampai maut datang menjelang. Hendaknya kita menggenjot ketakwaan kita sampai pada puncaknya, pada titik kulminasinya.
يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam (Ali Imran : 102).
Ketakwaan kita akan semakin bermakna mana kala yang menjadi pendorongnya adalah mahabbah cinta pada Allah. Cinta pada Allah sepenuh jiwa dan hati. Cinta yang tidak lagi membuatnya berpkir untuk dan rugi dalam menjalankan perintah dan anjuran-Nya. Semangat cinta yang membakar hatinya akan senantiasa menggerakkannya untuk senantiasa dekat, merapat dan bergiat untuk merengkuh ridha dan kasih-Nya, meminum cawan rahmat-Nya dalam setiap langkah-langkah hidup dan goresan sejarahnya. Rasa cintanya yang menggelegak pada Allah akan senantiasa membuat hidup terasa hidup, langkahnya demikian pasti menuju Sang Kekasih. Cawan cintanya senantiasa tumpah ruah dengan air mata takwa, ridha qanah, taubat syukur, tawakkal dan sabar.
Bagi para pecinta yang dipikirkan bukan lagi dirinya tapi Dzat yang dicintainya dan dia larut dalam gelombang kasih-Nya, larut dalam rahmat-Nya masuk dalam dekapan kasih sayang-Nya.
Ramuan kefakiran pada Allah+taubat+ridha+qana'ah+takwa+malu+mahabbah cinta+syukur+harap (raja') dan tahmid akan membersihkan dosa kita, melelehkan bebukitan kesalahan kita.
Dan yakinlah bahwa ramuan itu selain menghapuskan dosa kita dia juga akan menambah vitalitas keimanan kita semua menambah energi keislaman kita dan memantapkan akar ihsan kita.
Selama mencoba! Pastilah kita akan merasan khasiatnya. Dengan hasil jiwa nan segar dan jiwa yang jernih. Dengan dosa yang minim setiap hari.
oleh Ustadz Samson Rahman
Subscribe to:
Posts (Atom)